Dira tersenyum kagum saat melihat
Ares berhasil memasukan bola ke dalam ring. Dira begitu memperhatikan permainan
basket Ares sampai dia tidak sadar bahwa Alin sudah berada di sampingnya.
“Asyik banget sih, sampe nggak sadar kalau ada gue.” kata Alin
“Hai, Lin, nggak kok ini permainan tim basket sekolah kita makin hebat ya.” sahut Dira
“Tim basketnya atau Aresnya yang hebat?” goda Alin
“Tim basketnya lah, Lin.”
“Sampai kapan sih lo mau nutupin perasaan lo ke Ares, udah 4 tahun lho, Dir.” Alin seolah mengingatkan Dira tentang rasa cintanya pada Ares.
“Entahlah Lin, mungkin nggak akan pernah gue ungkap. Biar gue simpan semua ini sendiri aja. Gue cuma pengen seperti bintang, yang selalu ada meskipun nggak selalu terlihat.”
“Dira… lo udah sering sakit hati karena dia, apa lo nggak ngebutuhin balasan?” Alin tampak heran.
“Rasa cinta gue ke dia besar banget, Lin, sampai gue nggak bisa bedain antara sakit hati dan cinta. Melihat dia bahagia aja gue udah ikut seneng kok. Untuk apa sih dia sama gue kalau dianya enggak bahagia.” jawab Dira tulus.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo, Dir.” kata Alin akhirnya.
“Lo nggak harus ngerti Lin, lo cukup jaga rahasia ini aja. Udah deh nggak usah ngomongin ini.” pinta Dira.
Alin hanya mengangguk. “Gue akan bantuin lo semampu gue, Dir.” batin Alin.
“Asyik banget sih, sampe nggak sadar kalau ada gue.” kata Alin
“Hai, Lin, nggak kok ini permainan tim basket sekolah kita makin hebat ya.” sahut Dira
“Tim basketnya atau Aresnya yang hebat?” goda Alin
“Tim basketnya lah, Lin.”
“Sampai kapan sih lo mau nutupin perasaan lo ke Ares, udah 4 tahun lho, Dir.” Alin seolah mengingatkan Dira tentang rasa cintanya pada Ares.
“Entahlah Lin, mungkin nggak akan pernah gue ungkap. Biar gue simpan semua ini sendiri aja. Gue cuma pengen seperti bintang, yang selalu ada meskipun nggak selalu terlihat.”
“Dira… lo udah sering sakit hati karena dia, apa lo nggak ngebutuhin balasan?” Alin tampak heran.
“Rasa cinta gue ke dia besar banget, Lin, sampai gue nggak bisa bedain antara sakit hati dan cinta. Melihat dia bahagia aja gue udah ikut seneng kok. Untuk apa sih dia sama gue kalau dianya enggak bahagia.” jawab Dira tulus.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo, Dir.” kata Alin akhirnya.
“Lo nggak harus ngerti Lin, lo cukup jaga rahasia ini aja. Udah deh nggak usah ngomongin ini.” pinta Dira.
Alin hanya mengangguk. “Gue akan bantuin lo semampu gue, Dir.” batin Alin.
Siang ini kelas Dira kosong, tanpa
tugas. Dira memutuskan pergi ke perpustakaan seorang diri. Dira memang paling
suka membaca buku. Sikap ini sangat bertentangan dengan sahabatnya, Alin. Jadi
Dira selalu pergi ke perpustakaan tanpa sahabatnya itu.
Dira duduk tepat di sudut kiri
perpustakaan setelah selesai mencari buku yang diinginkannya. Kebetulan
perpustakaan sepi saat itu. Suasana perpustakaan seperti itu yang Dira suka.
Dan Dira hanya menempati meja panjang itu seorang diri. Saat tengah asyik
membaca buku, Dira merasa seperti ada orang yang berjalan ke arahnya. Dira
lantas mendongak. Matanya beradu dengan mata seseorang. Sepersekian detik hanya
seperti itu sampai akhirnya orang itu menyapa Dira lebih dulu.
“Hai Dir, sendirian aja ya, boleh gue duduk di sini?” tanya cowok berpostur tinggi bernama Ares menunjuk kursi yang ada di hadapan Dira.
“Eh, ehm.. iya nih, duduk aja Res.” jawab Dira tergagap.
“Tumben sendiri, biasanya kemana-mana sama Alin.” kata Ares seraya duduk di hadapan Dira.
“Alin kan anti banget sama perpustakaan, lo sendiri tumben ke perpus.”
“Males aja di kelas, jam kosong gini kalau nggak dimanfaatin kan sia-sia.”
“Iya sih, kelas lo jam kosong juga ya. Kenapa nggak maen basket aja?”
“Enggak deh, Dir, ntar si nenek lampir ngerecokin gue.”
“Nenek lampir? bukan Lala kan yang lo maksud?”
“Ya dia lah, Dir. Siapa lagi coba yang selalu ngekor gue kalau bukan dia.” kata Ares kesal.
“Lho, gue kira kalian pacaran. Selama ini kan kalian selalu barengan terus.” ujar Dira heran.
“Ogah gila’ pacaran sama orang kayak gitu, bukannya cinta tapi malah ilfeel, Dir. Lagian udah ada seseorang yang ngisi hati gue.” kata Ares serius.
“Oh gitu, lo pasti cinta banget ya sama dia sampai Lala yang secantik itu aja lo tolak.” suara Dira bergetar.
“Iya gue cinta banget sama dia, tapi sayang gue cuma bisa jadi bintang. Bintang yang selalu ada tapi nggak selalu nampak di matanya. Walaupun kebahagiaannya bukan sama gue, tapi gue ikut bahagia kok.” Ares berkata tulus.
Dira terdiam. “Kenapa ucapan Ares seperti ucapan gue ya?” Dira bertanya dalam hati.
“Dir, kok malah ngelamun sih. Lo nggak papa kan?” Ares menyadarkan Dira.
“Eh, enggak kok. Gue cuma ngebayangin gimana sakitnya lo setiap liat cewek itu jalan sama cowok lain.” dusta Dira.
“Gue cinta banget sama dia, Dir, sampai gue nggak bisa bedain sakit hati sama cinta.”
Dira merasakan matanya mulai memanas. Ucapan Ares begitu terasa di hatinya. Semua ucapan Ares seperti sebuah parang yang menggores hatinya. Ucapan Ares seperti sebuah sindiran yang ditujukan padanya.
“Ehm, Res, gue duluan ya.” pamit Dira sebelum air matanya tumpah di depan Ares.
Ares ingin menahan kepergian Dira, namun dia mengurungkan niatnya. Ares menyadari ucapannya telah melukai hati Dira.
“Hai Dir, sendirian aja ya, boleh gue duduk di sini?” tanya cowok berpostur tinggi bernama Ares menunjuk kursi yang ada di hadapan Dira.
“Eh, ehm.. iya nih, duduk aja Res.” jawab Dira tergagap.
“Tumben sendiri, biasanya kemana-mana sama Alin.” kata Ares seraya duduk di hadapan Dira.
“Alin kan anti banget sama perpustakaan, lo sendiri tumben ke perpus.”
“Males aja di kelas, jam kosong gini kalau nggak dimanfaatin kan sia-sia.”
“Iya sih, kelas lo jam kosong juga ya. Kenapa nggak maen basket aja?”
“Enggak deh, Dir, ntar si nenek lampir ngerecokin gue.”
“Nenek lampir? bukan Lala kan yang lo maksud?”
“Ya dia lah, Dir. Siapa lagi coba yang selalu ngekor gue kalau bukan dia.” kata Ares kesal.
“Lho, gue kira kalian pacaran. Selama ini kan kalian selalu barengan terus.” ujar Dira heran.
“Ogah gila’ pacaran sama orang kayak gitu, bukannya cinta tapi malah ilfeel, Dir. Lagian udah ada seseorang yang ngisi hati gue.” kata Ares serius.
“Oh gitu, lo pasti cinta banget ya sama dia sampai Lala yang secantik itu aja lo tolak.” suara Dira bergetar.
“Iya gue cinta banget sama dia, tapi sayang gue cuma bisa jadi bintang. Bintang yang selalu ada tapi nggak selalu nampak di matanya. Walaupun kebahagiaannya bukan sama gue, tapi gue ikut bahagia kok.” Ares berkata tulus.
Dira terdiam. “Kenapa ucapan Ares seperti ucapan gue ya?” Dira bertanya dalam hati.
“Dir, kok malah ngelamun sih. Lo nggak papa kan?” Ares menyadarkan Dira.
“Eh, enggak kok. Gue cuma ngebayangin gimana sakitnya lo setiap liat cewek itu jalan sama cowok lain.” dusta Dira.
“Gue cinta banget sama dia, Dir, sampai gue nggak bisa bedain sakit hati sama cinta.”
Dira merasakan matanya mulai memanas. Ucapan Ares begitu terasa di hatinya. Semua ucapan Ares seperti sebuah parang yang menggores hatinya. Ucapan Ares seperti sebuah sindiran yang ditujukan padanya.
“Ehm, Res, gue duluan ya.” pamit Dira sebelum air matanya tumpah di depan Ares.
Ares ingin menahan kepergian Dira, namun dia mengurungkan niatnya. Ares menyadari ucapannya telah melukai hati Dira.
Ares memang sengaja mengucapkan
semua itu untuk menyadarkan Dira bahwa Dira harus menunjukkan perasaannya pada
Ares. Ares telah mengetahuai semua rahasia yang disimpan rapat oleh Dira selama
4 tahun semenjak dia SMP hingga kini dia sudah akan lulus SMA.
Alin telah menceritakan semuanya
pada Ares. Alin tidak tega melihat Dira terus tersiksa dengan perasaan
cintanya. Meskipun Dira bilang dia tidak apa apa tapi Alin sudah beberapa kali
memergoki Dira diam-diam menangis setelah melihat kemesraan Lala dengan Ares.
Selama ini Alin membiarkan Dira menyimpan perasaannya dan berharap Dira akan
menunjukkan perasaannya itu pada Ares sebelum mereka lulus. Namun sampai saat
ini Dira tetap saja tidak menunjukkan rasa cintannya pada Ares. Akhirnya Alin
nekad memberi tahu Ares tentang perasaan cinta yang dipendam Dira selama 4
tahun padanya. Dan kini Ares sudah mengetahuinya.
Semenjak bertemu dengan Ares di
perpustakaan, sikap Dira menjadi pendiam. Dia selalu menghindar bila bertemu
dengan Ares ataupun saat melihat Ares sedang bersama dengan Lala. Alin merasakan
perubahan sahabatnya itu. Namun Alin membiarkannya.
Dira juga tidak mau melihat pertandingan final tim basket sekolahnya. Hanya karena Ares menjadi kapten basketnya. Dira ingin melupakan semua perasaannya pada Ares. Namun semua itu terasa sulit. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati Dira. Sesuatu yang membuat Dira tidak bisa melupakan perasaan cintanya begitu saja.
Dira juga tidak mau melihat pertandingan final tim basket sekolahnya. Hanya karena Ares menjadi kapten basketnya. Dira ingin melupakan semua perasaannya pada Ares. Namun semua itu terasa sulit. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati Dira. Sesuatu yang membuat Dira tidak bisa melupakan perasaan cintanya begitu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar