Senin, 10 Februari 2014

Seperti Bintang end



Malam ini adalah malam minggu. Seperti malam-malam minggu biasanya, Dira hanya diam di kamarnya. Kalau biasanya dia membaca buku, kali ini tidak. Dira masih memikirkan perasaannya pada Ares. Apakah dia memang harus melupakan semua cintanya? Sanggupkah Dira melakukannya? Semua itu membuatnya semakin galau. Tiba-tiba HP-nya bergetar.
1 New Message tertera pada layar touchscreennya.
from : Ares
Dir, tlg tmenin gw. Plis…

to : Ares
kmna?

from : Ares
Kafe, bwt ngerayain kmenangan tim basket kmrin. Gw udh d dpan rmh lo.

Dira menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dan ternyata Ares sudah bertengger santai di atas motor sportnya. Hhh… Dira menghela nafas berat. Sebenarnya Dira ingin menolak tapi melihat Ares sudah berada di depan rumahnya, dia urung menolak. Tanpa membalas SMS dari Ares, Dira segera bersiap-siap.
Bukannya mengajak Dira ke kafe seperti yang ditulis pada SMSnya tadi, Ares malah mengajak Dira mengelilingi pusat kota. Di sebuah bukit yang dihiasi dengan banyak lampion Ares menghentikan laju motornya. Dari atas bukit itu mereka bisa melihat bintang dengan jelas. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kok ke sini, katanya mau ke kafe?” tanya Dira memecah keheningan.
“Gue males ke sana, pasti ada Lala. Semakin hari semakin muak gue sama tingkahnya.” jawab Ares. Dira hanya mengangguk. Mereka kembali terdiam.
“Dir…” panggil Ares.
“Ya.” jawab Dira.
“Mau sampai kapan kayak gini?” tanya Ares tanpa menatap Dira.
“Maksud lo?” Dira balik bertanya, bingung dengan pertanyaan Ares.
Ares justru diam tanpa menjawab pertanyaan Dira. Melihat Ares tidak bereaksi, Dira pun ikut diam. Hening. Lagi-lagi hanya keheningan yang tercipta.

Ares kembali buka suara. “Mau sampai kapan lo jadi seperti bintang-bintang itu?” tanya Ares menunjuk taburan bintang di langit, “selalu ada walaupun nggak selalu nampak?”
“Gue nggak ngerti sama omongan lo, Res.” Dira pura-pura.
“Lo ngerti kok, kenapa sih lo lebih seneng nyakitin hati lo sendiri dari pada nunjukin perasaan lo ke gue kayak cewek-cewek lain, kayak Lala misalnya. Kenapa Dir?” Ares menatap Dira.
“Lo udah tahu ya, pasti Alin kan? Hh…” Dira menghela nafas, “gue punya cara sendiri buat mencintai lo. Lo suka bintang dan gue pengen jadi seperti bintang. Selalu ada meskipun lo nggak selalu liat gue. Yang penting gue bisa selalu liat lo. Buat gue semua itu udah cukup bikin gue seneng, Res.” jelas Dira berkaca-kaca.
“Lo tahu nggak Dir, gue ngerasa bersalah dan nyesel banget saat Alin cerita semua tentang lo. Selama ini gue deket sama beberapa cewek dan seneng-seneng sama mereka. Tapi tanpa gue sadar, gue udah bikin hati salah satu cewek yang selalu baik sama gue remuk. Hancur berantakan.” kata Ares penuh penyesalan.
“Lo nggak boleh ngerasa kayak gitu, Res. Lo nggak salah sama sekali. Semua ini kemauan gue sendiri. Dan sekarang kan lo udah tahu, gue udah seneng kok. Mulai saat ini lo nggak perlu mikirin perasaan gue lagi karena mulai malam ini juga gue akan lupain perasaan gue ke lo selama ini.” Dira mengucapkannya dengan air mata yang membasahi pipinya.
“Kok lo seenaknya gitu sih, Dir. Lo pikir gue akan biarin cewek yang udah gue sakitin dan gue cintai selama ini pergi gitu aja? Dan lo pikir cuma lo doang yang jadi seperti bintang-bintang itu? Gue juga Dir, gue cowok pengecut yang nggak berani ungkapin cinta sama lo selama 4 tahun!” kata Ares keras.
“Ares, ja.. jadi selama ini lo…”
“Iya, gue juga cinta sama lo selama 4 tahun ini. Gue kira dengen deket sama beberapa cewek bisa buat gue lupain perasaan gue ke lo. Tapi nyatanya gue nggak bisa, gue semakin tersiksa dengan perasaan yang gue pendam. Dan saat gue mau ungkapin semua ke lo, gue lihat lo lagi deket sama Ryan. Akhirnya gue nggak pernah ungkap perasaan gue ke siapapun sampai Alin cerita perasaan lo ke gue.” potong Ares.
“Gue emang sempet deket sama Ryan tapi perasaan gue ke lo terlalu kuat, nggak ada yang bisa memudarkan cinta gue sama lo.” Dira menyeka air matanya.
“Gue tahu… sorry ya udah bikin hati lo terluka.”
“Gue juga, sorry udah bikin lo kesiksa.”
“Dir, sekarang di bawah cahaya bulan dan di bawah tatapan bintang-bintang di langit malam ini, aku pengen kamu jadi bintang di hatiku. Bintang yang akan selalu bersinar dan terus nampak di hatiku kapanpun. Nggak peduli siang atau malam, nggak peduli panas atau dingin. Berapapun jumlah bintang yang ada di langit, seterang apapun mereka, aku nggak peduli. Cuma kamu satu-satunya bintang yang paling terang buat aku. Kamu mau kan jadi bintangku selamanya?” Ares menggenggam tangan Dira erat.
Dira kembali meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Serasa mimpinya menjadi kenyataan.
“Kamu serius kan, Res, bukan karrna kasihan sama aku?” tanya Dira memastikan.
“Bukan cuma serius bahkan seratusrius, Dir. Percaya sama aku. Aku akan bahagiain kamu. Kata-kataku tadi bukan gombal atau sebatas rayuan.” jawab Ares mantap.
“Gimana, Dir?” tanya Ares tak sabar.
“Aku rasa, aku udah nggak bisa lagi nahan perasaanku ke kamu.” jawab Dira.
“Maksud kamu, Dir?”
“Ya, aku mau jadi bintang di hati kamu selamanya.”
“Makasih, Dir.” Refleks Ares memeluk Dira, “Aku janji bakal jagain kamu, nggak akan aku biarin kamu berhenti bersinar.”
Ares melepaskan pelukannya. Dia menatap Dira dalam. Keduanya lalu tersenyum.
“Sekarang jadi aku – kamu ya?” kata Dira menyandarkan kepalanya di bahu Ares.
“Nggak papa biar kedengaran romantis.” ujar Ares seraya membelai rambut Dira.

Malam itu Ares dan Dira menghabiskan malam minggu berdua di bukit yang mereka namakan bukit bintang sambil mengamati indahnya hamparan bintang yang bersanding dengan bulan di langit. Tanpa mempedulikan teman-teman Ares yang tengah menunggu sang kapten untuk merayakan kemenanngan tim basketnya.
Bintang itu kini tidak lagi bersembunyi, bintang itu kini akan selalu ada dan selalu nampak. Di hati Ares dan Dira tentunya.

Kaca yang Pecah



Angga : “maafin gw sar…”
Sarah : “ engga segampang itu”
Angga : “gw akan ngelakuin apapun, biar gw bisa ngedapetin maaf dari lo sar”
Sarah : “tapi maaf, sulit untuk gw”
Angga : “kenapasih sesulit itu?”
Sarah : “lo engga tau gimana perasaan gw kan? Dan lo juga engga akan mencari tau itu semua”
Angga : “sar….”
Sarah : “gini deh, nih.. gw punya kaca, memang kecil. Coba lo banting ini kaca, apa yg terjadi? Pecah kan? Terus kalo udah pecah, lo minta maaf dengan itu kaca? Emang dengan maaf lo itu, bisa nyempurnain lagi itu kaca? Bisa kaya semula lagi? Engga kan? Nah, itu… sama. Gak semua orang, dengan permintaan maaf dia akan seperti semula lagi”
Angga : “tapi kan, kesempatan kedua itu selalu ada”
Sarah : “kaya nya emang lo tuh gak ngerti ya, apa yang gw omongin. Kesempatan kedua itu, emang ada. Tapi mungkin yang memberi kesempatan kedua itu bukan gw, dan yang diberi kesempatan kedua itu bukan lo.”
Angga : “tapi sar…”
Sarah : “sebuah kaca, engga akan mencerminka seseorang dengan sempurna walaupun udah dibenerin, bukan pake kata maaf, tapi dengan cara, dengan tindakan, dengan usaha. Dan walaupun udah bener, tetap aja, tidak akan sempurna, masih tertera jelasan goresan-goresan bekas pecahnya, dan ia tidak akan sempurna mencermikan seseorang yg ada dihadapannya. Seperti gw. Lo, udah nerbangin gw setinggi – tingginya, terus lo ngedamparin gw gitu aja. Sakit loh. Pecah … seperti kaca. Walaupun, lo minta maaf seribu kalipun, gak akan menghilangkan goresan bekas pecahan itu. Goresan tersebut akan tetap ada, walaupun gak keliatan. Walaupun gw tersenyum. Walaupun gw tertawa.”
Angga : “apa yang harus gw lakuin untuk ngedapetin maaf dari lo?”
Sarah : “gw Cuma minta waktu, untuk sendiri, untuk jauh dari lo. Karna gw pikir itu yg terbaik. Toh, lo juga gak kenapa – kenapa kan?”
Angga : “tapi gw mau lo yang dulu, lo yang ada buat gw. Lo yg selalu minta tolong walaupun, masalah hal sepele. Lo yang selalu ngehubungin gw, nge-BBM, nge-WhatsUp. Gw mau itu dari lo sar…”
Sarah : “tapi maaf, gw gak akan stak di saat itu. Gw juga gak akan lebih bodoh dari keledai, karna keledai aja gak ingin jatuh di lubang yg sama. Apalagi gw, gw manusia. Yg diberikan tuhan akal yang sempurna. Dan, kalo lo mau minta gw yang dulu, telat. Gw yang sekarang bukan cewek bodoh, yang akan tetap bertahan untuk seseorang yang gw sayang”
Angga : “lo salah sar…”
Sarah : “iya, gw salah, gw akuin dengan benar kalo gw salah. Karna mencintai orang yang salah, menyayangi orang yang salah, dan bertahan dengan kesalahan itu. Udah cukup bagi gw, berada di saat – saat itu.”
Angga : “sumpah, bukan itu maksud gw sar. Gw yang bego, gw yang tolol. Engga nyadar, kalo ada yang seseorang yang tulus mencintai gw apa adanya, yang selalu ada disaat gw butuh. Gw bego sar, gak menyadari itu semua.”
Sarah : (pergi meninggalkan) *telat, lo telat kalo ngomong kaya gitu, gw udah sakit hati sama lo!*
Angga : “sar…. Sulit ya member maaf itu? Tuhan aja memaafkan hambannya yang salah, masa lo engga?”
Sarah : “gw Cuma engga mau aja, mengucapkan kata maaf di bibir tapi dihati masih mengganjal. Gak sempurna nantinya maaf yang gw berikan. Gw Cuma takut akan hal itu. Dan, maaf dari gw karna gw butuh jarak, seperti yang lo lakukan di saat lo ragu akan suatu hal tentang gw.” (terus berjalan)


Tidak semua bisa memaafkan dengan gampang.
Jika, bibir telah mengucapkan maaf.
Maka, hati juga harus memaafkan dengan ikhlas.