Kamis, 30 Januari 2014

Untuk Kamu



Untuk kamu yang baru kulihat,
Maaf bila aku baru melihatmu. Maaf jika aku terlambat, tapi… seperti katamu, “mending terlambat, dari pada tidak sama sekali” iya kan? Hehehe, masih ku ingat bagaimana kamu menyampaikan kalimat itu, dengan tanganmu yg kau umpatkan dikantong celanamu, alismu dinaikan sebelah, dengan muka yang ingin tertawa karna gerutuku, indah saat itu. Tapi, sayangnya aku belum menyadarinya.

Untuk kamu sang penghuni baru di hatiku,
Semoga, kamu betah berada lama – lama didekatku, tidak seperti dia, baru sejenak berada di dekatku langsung pergi tanpa penjelasan. Oiyaa, boleh aku memohon? Tolong, sikapmu yang sepertinya dingin itu kepada semua orang diubah ya, dan… kemisteriusanmu itu loh… menjadi orang – orang menganggapmu tidak meng-asyik-kan, tidak ramah dan banyak lagi orang – orang disekitarmu dan disekitarku menganggap hal negative darimu. Padahal, kamu baik, suka menolongku, sering direpotkan karenaku, dan satu hal yang perlu kau tahu : aku, pernah membelamu loh. Iya, membelamu dari fikiran negative segelintir orang, mereka mengatakan kalau kamu itu tidak baik, tidak ramah, dan perkataanmu itu kadang menyakitkan, dan suka membuat orang jengkel. Tapi, aku mengatakan hal yang berbeda: “menurutku, dia itu baik, sangat baik. Di juga ramah, walaupun sikapnya dingin. Tapi aku yakin dia pribadi yang baik, tulus menolong temanya. Dan, kalau dia sering bikin jengkel orang mungkin karna air mukannya yang aneh(suka menaikan sebelah alisnya, dan berbicara sambil jalan)”  apa kamu senang dengan pembelaan yang kuberi? Atau… aku salah berbicara? Maafkan aku, bila aku salah dalam berbicara tentangmu. Maaf, jika aku sok tau tentangmu. Tapi benar, bukan aku mau cari muka atau apalah itu namanya, tapi aku melihatmu benar seperti itu adanya. Walaupun, aku dan kamu tidak pernah sedekat aku dan dia dulu, tapi aku yakin kalau kita bisa menjadi temanyg baik di awal permulaan.

Untuk kamu yang sedang aku tulis,
Jangan kecewakan aku dengan harapan – harapan yang kuciptakan. Tolong, jaga harapanku terhadapmu walaupun aku tak pernah mengatakannya. Aku tidak mau kalau nantinya harapanku akan kandas seperti aku berharap dengan dia. Dan aku akan ber-doa kepada tuhan yang maha agung, untuk memberian yang terbaik untukku dan tentunya untukmu.

Dari muslimah, yang baru menyadari jika ada seseorang
Yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda

Rabu, 08 Januari 2014

You’ll Never Know



Matahari mulai memunculkan sinarnya di ufuk timur bumi, tanda hari kini sudah pagi. Ayam-ayam berkokok serentak membangunkan orang orang yang masih terlelap dalam tidur mereka. Carla terbangun dari tidur nyeyaknya dan segera beranjak menuju kamar mandi untuk segera bersiap-siap menuju sekolahnya
“Carla cepatlah, kita bisa terlambat” teriak Mafalda sahabat sekaligus teman sekamar di tempat kost yang di sewa nya
“sebentar” Carla berteriak balik dan segera keluar dari kamarnya sebelum Mafalda meninggalkannya
Mereka berjalan beiringan menuju sekolah yang sama, namun mereka tidak berada dalam kelas yang sama. Carla berada di kelas Bahasa sedangkan Mafalda berada di kelas Ipa. Hari itu mereka tepat waktu atau lebih tepatnya tepat ketika bel berbunyi mereka sampai di depan pintu gerbang sekolah. Mafalda segera berlari menuju kelas nya begitupun dengan Carla
“syukurlah aku tidak terlambat lagi” gumam Carla saat memasuki kelasnya
Carla berjalan menuju tempat duduknya yang berada di sebelah Olivia, dan berada persis di depan bangku Joshua, teman sekelasnya yang selalu membuat lelucon konyol dan juga biang keributan di dalam kelas. Dan Carla juga sering menjadi penyebab salah satu keributan itu bersama dengan Joshua
“Carla” Joshua memanggilnya saat pelajaran baru saja dimulai
“aku bawa kartu poker. Ayo kita main” ajaknya dengan tersenyum lebar
“jangan! Ini sedang jam pelajaran, mainlah nanti” cegah Olivia
“Ayo!” seru Carla bersemangat sementara Olivia dan Jason teman sebangku Joshua hanya menghela nafas pasrah oleh tingkah laku kedua teman mereka itu
Joshua dan Carla sibuk dengan dunia mereka sendiri sementara guru mereka sedang menjelaskan pelajaran di depan. Tanpa mereka sadari guru itu mengetahui bahwa Carla dan Joshua tidak memperhatikan pelajarannya tanpa memberi peringatan dia pun langsung mendatangi tempat duduk mereka berdua
“apa yang kalian lakukan?!” bentaknya
Carla dan Joshua yang kaget langsung memasukkan kartu mereka ke dalam saku seragam masing-masing
“tidak apa-apa, pak” ucap mereka bebarengan
“Carla sejak kapan papan tulis menghadap ke belakang?! Hadap ke depan!” serunya dan Carla langsung membalikkan tubuhnya
“kembali perhatikan pelajaran!” seru guru itu sebelum kembali melanjutkan pelajarannya
Sementara disisi lain Carla dan Joshua justru menertawakan entah hal apa yang menurut mereka lucu. Walaupun hanya terkikik pelan namun keadaan kelas yang sepi membuah mereka sangat mudah tertangkap
“Carla, Joshua. Keluar dari kelas saya sekarang!!” guru itu berteriak, yang membuat Carla dan juga Joshua terdiam seketika
Setelah mencoba meminta maaf namun tidak ada gunanya, akhirnya Carla dan Joshua pun keluar dari kelas dan duduk di taman yang berada di depan kelas mereka. Mereka saling bercakap-cakap dan seperti biasa membicarakan lelucon lelucon konyol dan akan tertawa bersama-sama atau lebih tepatnya Carla yang akan tertawa hingga memegangi perutnya
Tepat saat mereka masih duduk di taman, Mafalda lewat di koidor kelas mereka dan melihat Carla berada di luar kelas
“Carla” Mafalda melambaikan tangannya pada Carla yang masih sibuk tertawa “kenapa kau tidak berada di kelas?” tanyanya
Carla pun menghentikan tawanya dengan susah payah dan berjalan menuju Mafalda “aku mendapat hukuman bersama dengan Joshua” jawab Carla
“yah, jangan sering bermain di kelas! Dasar kau. Ya sudah aku kembali ke kelas dulu” ucap Mafalda sebelum kembali ke kelasnya
“siapa tadi?” tanya Joshua saat Carla kembali menghampirinya
“Mafalda, temanku” jawab Carla
“hey, boleh aku minta nomer ponselnya?” pinta Joshua
“minta saja sendiri” ucap Carla sambil menjulurkan lidahnya
Tanpa di duga Joshua langsung berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri Mafalda yang belum sempat masuk ke dalam kelas. Tentu Mafalda langsung memberikan nomer ponselnya karena dia tau bahwa Joshua adalah teman dari sahabatnya sendiri
Beberapa minggu berlalu setelah Joshua meminta nomor ponsel Mafalda dan akhir-akhir ini dia juga sering menanyakan hal-hal yang bersangkutan dengan Mafalda pada Carla. Carla yang tidak tau apa maksud Joshua sebernarnya pun memberitahukan apa yang dia tau tentang Mafalda. Warna kesukaan barang barang kesukaannya dan lainnya
Sampai pada suatu hari, Carla tidak tau kenapa Joshua tiba-tiba menghindarinya. Dia bahkan tidak berbicara sama sekali pada Carla bahkan saat Carla mencoba bertanya padanya. Dia akan memutar tempat duduknya ke arah lain saat Carla mencoba menanyakan sesuatu padanya atau mengajaknya berbicara
“apa yang sebenarnya terjadi padamu, huh?” tanya Olivia pada akhirnya yang mengetahui perubahan sikap Joshua yang sangat drastis
“frustasi mungkin” canda Carla
Dan Joshua sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka
“sudahlah biarkan saja. Dia akan segera baikan” ucap Jason
Dan beberapa hari setelah itu Carla baru mengetahui bahwa Joshua telah menyatakan perasaannya pada Mafalda, temannya sendiri. Tidak bisa di pungkiri bahwa Carla merasa sedih karena sejujurnya dia menyimpan perasaan pada Joshua sejak lama. Dan dia baru menyadari mengapa Joshua selalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Mafalda. Apakah mungkin itu juga yang membuat nya menghindari Carla selama ini?
“wah, jadi kau menerimanya. Selamat!” ucap Carla sambil tertawa riang di depan Mafalda saat sahabatnya itu memberitahunya bahwa dia telah resmi berpacaran dengan Joshua
“aku kira dia menyukaimu” ucap Mafalda yang membuat Carla terdiam sejenak
“tentu saja tidak. Kami hanya teman biasa” ucapnya
“aku tau. Terima kasih” gumam Mafalda dan memeluk erat sahabat terbaiknya itu
Carla berangkat ke sekolah seperti biasa walaupun Mafalda sudah berangkat lebih dulu karena dia terlambat bangun pagi tadi. Sampai di kelas di menemukan Joshua yang sudah kembali berubah seperti dulu, Joshua yang periang dan selalu menceritakan lelucon lelucon konyolnya
“jadi kau menghindariku beberapa hari ini karena kau sudah berpacaran dengan Mafalda?” tanya Carla saat mereka sudah kembali menjadi biang keributan di kelas
“ha? Eum- aku hanya. Yah hm” jawab Joshua bingung atas pertanyaan Carla
“hahaha oh ya, selamat ya!” ucap Carla yang melihat kebingungan di wajah Joshua
“terima kasih” ucapnya
‘you’ll never know what i feel’ batin Carla sedih dalam hatinya

Jika Kamu Mengerti



Ku buka mata, kulihat dunia, ku bertanya pada embun pagi, apakah hari ini semua orang tersenyum bahagia? Ataukah ada orang yang merasa sepertiku hari ini, terdekap dalam luka, sepi, sunyi, hilang dan hampa.
Kulihat burung-burung berterbangan dengan riangnya, tergambar senyuman indah dari setiap kepakan sayapnya, hmmm … aku ingin terbang bersama mereka, aku ingin bernyanyi bersama kicauannya, “good morning adikku tercinta”, sapa kak Ivan sembari memelukku dari belakang, aku hanya membalasnya dengan senyuman manisku. Aku Shireen dan kakakku Ivan, orang tua kami bercerai delapan tahun yang lalu, berdasarkan putusan pengadilan aku diasuh oleh mama, dan Kak Ivan bersama papa.
Satu minggu yang lalu mama meninggal karena kecelakaan, dan akhirnya sekarang aku tinggal di rumah papa, “bagaimana tidurnya semalam, nyenyak nggak?”, Tanya papa saat kita sarapan bersama, “nyenyak pa” jawabku singkat”, “nanti kak Ivan antar ke sekolah ya Reen?”, “iya kak”, suasana ini bukan yang aku harapkan, aku lebih menyukai suasana saat bersama mama, penuh kehangatan, penuh canda, mama selalu tahu bagaimana memperlakukanku, aku merindukannya, aku ingin mama selalu di sampingku, memelukku setiap waktu.
“Dari tadi kakak perhatiin Shireen diam aja, belum terbiasa ya?”, Tanya kak Ivan di tengah jalan, “Shireen gak tahu harus bersikap gimana kak?”, “dulu kita selalu bersama-sama, kamu bukan orang asing buat kakak dan papa, jangan pernah merasa sendiri, sekarang ada kakak yang selalu siap kapan aja buat kamu”, “dulu dan sekarang beda kak!”, “dulu dan sekarang memang beda, tapi sampai kapanpun kamu akan selalu menjadi adikku”, aku memandang wajah kakakku, seandainya saja dulu mama dan papa tak pernah bercerai, mungkin aku tak akan merasa seasing ini, “kok bengong! buruan masuk Reen”, kak Ivan membuyarkan lamunanku, dan aku langsung bergegas masuk ke dalam sekolah, sekolah baruku tentunya.
Hari demi hari telah berganti, suasana yang asing kini berubah sedikit menjadi lebih hangat, aku tak lagi merasa sendiri, tak lagi merasa sepi dan sunyi, aku mencoba memulai semua yang baru disini, tanpa mama, “kita jalan-jalan yuk?”, ajak kak Ivan padaku, “kemana kak?”, “udah ikut aja”, aku menurut saja padanya, kak Ivan mengajakku ke tepi danau, indah sekali pemandangannya, suasananya tenang, damai, “kak Ivan sering kesini?”, tanyaku membuka percakapan, “nggak juga dek, ya kalau lagi pengen aja”, “kak Ivan udah punya pacar?”, “kok Shireen Tanya itu, kenapa hayo?”, “nggak! pengen tahu aja kak, ya kalau gak mau jawab juga gak pa-pa”, “Shireen Shireen, kamu itu udah hampir dua bulan tinggal bersama kakak, tapi sikap kamu masih aja belum bisa biasa, aku ini kakakmu, jadi kamu harus bersikap biasa aja kayak dulu, gak usah sungkan-sungkan”, aku juga nggak tahu apa alasannya, mungkin karena kita berpisah lumayan lama, jadi butuh waktu untuk menyesuaikan diri,
“Hujan Reen, kita berteduh yuk”, kak Ivan mnggandeng tanganku menuju sebuah gubuk, lumayan untuk berlindung dari air hujan, dingin sekali rasanya, apalagi aku hanya memakai baju lengan pendek yang tidak begitu tebal kainnya, “dingin Reen?”, Tanya kak Ivan padaku, aku hanya menggangguk, “pakai ini aja”, kak Ivan melepaskan jaketnya dan memberikannya padaku, ya lumayan lah agak sedikit lebih hangat, “masih dingin ya?”, “iya ni kak, hujannya deres banget, kayaknya bakal lama deh kak redanya”, kak Ivan yang melihatku masih kedinginan langsung bergegas mendekat padaku, dan memelukku, memegang kedua tanganku mencoba untuk membuatku merasa hangat, tapi rasanya aneh, jantungku berdetak seribu kali lebih cepat saat dipeluk kak Ivan, aku tak tahu apa yang aku rasakan, mungkin karena aku dan Kak Ivan sudah sama-sama dewasa, dan kita telah lama berpisah.
Sikap dan perhatian yang ditujukan kak Ivan kepadaku begitu besar, dia memperlakukanku bukan hanya sebatas adik kakak, tapi dia memperlakukanku sangat istimewa, dan hal yang paling aku takutkan pun akhirnya menjadi nyata, aku memiliki rasa kepada kakakku sendiri, ya aku mencintainya, mencintai kakakku sendiri, meski aku tahu ini salah, tapi aku tetap tak bisa menahannya, rasa itu perlahan-lahan tumbuh menjadi besar, hingga aku tenggelam di dalamnya, dan aku tak tahu bagaimana caranya agar aku tidak terhanyut semakin dalam.
“Shireen kakak mau nunjukin foto sama kamu”, “foto apa kak?”, kak Ivan membuka dompetnya, dan kemudian mengeluarkan sebuah foto, “lihat deh”, aku terkejut melihatnya, rasanya hatiku seperti disayat, perih “ini kak Ivan sama siapa? Cewek itu siapa kak?”, tanyaku seperti tak ada apa-apa, “ini namanya Nina, pacar baru kakak, gimana cantik gak?”, aku mencoba menahan tangis yang sudah tak kuat ku bendung, “ooo cantik kak, cocok sama kak Ivan”, ucapku mencoba menutupi perasaanku, ternyata begini rasanya mencoba tetap tersenyum meski hati kita sedang menangis, Tuhan … aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang? Perasaan itu terlalu dalam hingga aku tak tahu bagaimana untuk menguburnya, aku tak tahu sampai kapan aku akan memendam perasaan ini, dan akan terus merasa sakit saat aku tersadar bahwa kak Ivan bukan untuk aku miliki.
Aku memutuskan untuk kuliah ke Australia, semakin aku dekat dengan kak Ivan, semakin aku tak bisa membuang rasa ini, dan semakin membuatku sakit setiap melihat kak Ivan bersama pacarnya, kak Ivan memintaku untuk melanjutkan kuliah di Jakarta saja, tapi itu tak mungkin, aku tak ingin semakin mencintainya, seandainya jika kamu mengerti, ini bukan yang aku inginkan, meninggalkanmu bukan pilihanku, jauh darimu bukan keinginanku, tapi jika aku tetap disini, itu hanya akan membuatku semakin sulit dan semakin sakit, kita terlahir sebagai saudara, aku adikmu dan kamu kakakku, selamanya akan terus begitu dan tak akan pernah bisa aku merubahnya untuk memilikimu.

Seperti Bintang



Dira tersenyum kagum saat melihat Ares berhasil memasukan bola ke dalam ring. Dira begitu memperhatikan permainan basket Ares sampai dia tidak sadar bahwa Alin sudah berada di sampingnya.
“Asyik banget sih, sampe nggak sadar kalau ada gue.” kata Alin
“Hai, Lin, nggak kok ini permainan tim basket sekolah kita makin hebat ya.” sahut Dira
“Tim basketnya atau Aresnya yang hebat?” goda Alin
“Tim basketnya lah, Lin.”
“Sampai kapan sih lo mau nutupin perasaan lo ke Ares, udah 4 tahun lho, Dir.” Alin seolah mengingatkan Dira tentang rasa cintanya pada Ares.
“Entahlah Lin, mungkin nggak akan pernah gue ungkap. Biar gue simpan semua ini sendiri aja. Gue cuma pengen seperti bintang, yang selalu ada meskipun nggak selalu terlihat.”
“Dira… lo udah sering sakit hati karena dia, apa lo nggak ngebutuhin balasan?” Alin tampak heran.
“Rasa cinta gue ke dia besar banget, Lin, sampai gue nggak bisa bedain antara sakit hati dan cinta. Melihat dia bahagia aja gue udah ikut seneng kok. Untuk apa sih dia sama gue kalau dianya enggak bahagia.” jawab Dira tulus.
“Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo, Dir.” kata Alin akhirnya.
“Lo nggak harus ngerti Lin, lo cukup jaga rahasia ini aja. Udah deh nggak usah ngomongin ini.” pinta Dira.
Alin hanya mengangguk. “Gue akan bantuin lo semampu gue, Dir.” batin Alin.
Siang ini kelas Dira kosong, tanpa tugas. Dira memutuskan pergi ke perpustakaan seorang diri. Dira memang paling suka membaca buku. Sikap ini sangat bertentangan dengan sahabatnya, Alin. Jadi Dira selalu pergi ke perpustakaan tanpa sahabatnya itu.
Dira duduk tepat di sudut kiri perpustakaan setelah selesai mencari buku yang diinginkannya. Kebetulan perpustakaan sepi saat itu. Suasana perpustakaan seperti itu yang Dira suka. Dan Dira hanya menempati meja panjang itu seorang diri. Saat tengah asyik membaca buku, Dira merasa seperti ada orang yang berjalan ke arahnya. Dira lantas mendongak. Matanya beradu dengan mata seseorang. Sepersekian detik hanya seperti itu sampai akhirnya orang itu menyapa Dira lebih dulu.
“Hai Dir, sendirian aja ya, boleh gue duduk di sini?” tanya cowok berpostur tinggi bernama Ares menunjuk kursi yang ada di hadapan Dira.
“Eh, ehm.. iya nih, duduk aja Res.” jawab Dira tergagap.
“Tumben sendiri, biasanya kemana-mana sama Alin.” kata Ares seraya duduk di hadapan Dira.
“Alin kan anti banget sama perpustakaan, lo sendiri tumben ke perpus.”
“Males aja di kelas, jam kosong gini kalau nggak dimanfaatin kan sia-sia.”
“Iya sih, kelas lo jam kosong juga ya. Kenapa nggak maen basket aja?”
“Enggak deh, Dir, ntar si nenek lampir ngerecokin gue.”
“Nenek lampir? bukan Lala kan yang lo maksud?”
“Ya dia lah, Dir. Siapa lagi coba yang selalu ngekor gue kalau bukan dia.” kata Ares kesal.
“Lho, gue kira kalian pacaran. Selama ini kan kalian selalu barengan terus.” ujar Dira heran.
“Ogah gila’ pacaran sama orang kayak gitu, bukannya cinta tapi malah ilfeel, Dir. Lagian udah ada seseorang yang ngisi hati gue.” kata Ares serius.
“Oh gitu, lo pasti cinta banget ya sama dia sampai Lala yang secantik itu aja lo tolak.” suara Dira bergetar.
“Iya gue cinta banget sama dia, tapi sayang gue cuma bisa jadi bintang. Bintang yang selalu ada tapi nggak selalu nampak di matanya. Walaupun kebahagiaannya bukan sama gue, tapi gue ikut bahagia kok.” Ares berkata tulus.
Dira terdiam. “Kenapa ucapan Ares seperti ucapan gue ya?” Dira bertanya dalam hati.
“Dir, kok malah ngelamun sih. Lo nggak papa kan?” Ares menyadarkan Dira.
“Eh, enggak kok. Gue cuma ngebayangin gimana sakitnya lo setiap liat cewek itu jalan sama cowok lain.” dusta Dira.
“Gue cinta banget sama dia, Dir, sampai gue nggak bisa bedain sakit hati sama cinta.”
Dira merasakan matanya mulai memanas. Ucapan Ares begitu terasa di hatinya. Semua ucapan Ares seperti sebuah parang yang menggores hatinya. Ucapan Ares seperti sebuah sindiran yang ditujukan padanya.
“Ehm, Res, gue duluan ya.” pamit Dira sebelum air matanya tumpah di depan Ares.
Ares ingin menahan kepergian Dira, namun dia mengurungkan niatnya. Ares menyadari ucapannya telah melukai hati Dira.
Ares memang sengaja mengucapkan semua itu untuk menyadarkan Dira bahwa Dira harus menunjukkan perasaannya pada Ares. Ares telah mengetahuai semua rahasia yang disimpan rapat oleh Dira selama 4 tahun semenjak dia SMP hingga kini dia sudah akan lulus SMA.
Alin telah menceritakan semuanya pada Ares. Alin tidak tega melihat Dira terus tersiksa dengan perasaan cintanya. Meskipun Dira bilang dia tidak apa apa tapi Alin sudah beberapa kali memergoki Dira diam-diam menangis setelah melihat kemesraan Lala dengan Ares. Selama ini Alin membiarkan Dira menyimpan perasaannya dan berharap Dira akan menunjukkan perasaannya itu pada Ares sebelum mereka lulus. Namun sampai saat ini Dira tetap saja tidak menunjukkan rasa cintannya pada Ares. Akhirnya Alin nekad memberi tahu Ares tentang perasaan cinta yang dipendam Dira selama 4 tahun padanya. Dan kini Ares sudah mengetahuinya.
Semenjak bertemu dengan Ares di perpustakaan, sikap Dira menjadi pendiam. Dia selalu menghindar bila bertemu dengan Ares ataupun saat melihat Ares sedang bersama dengan Lala. Alin merasakan perubahan sahabatnya itu. Namun Alin membiarkannya.
Dira juga tidak mau melihat pertandingan final tim basket sekolahnya. Hanya karena Ares menjadi kapten basketnya. Dira ingin melupakan semua perasaannya pada Ares. Namun semua itu terasa sulit. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati Dira. Sesuatu yang membuat Dira tidak bisa melupakan perasaan cintanya begitu saja.