Malam ini adalah malam minggu. Seperti malam-malam minggu
biasanya, Dira hanya diam di kamarnya. Kalau biasanya dia membaca buku, kali
ini tidak. Dira masih memikirkan perasaannya pada Ares. Apakah dia memang harus
melupakan semua cintanya? Sanggupkah Dira melakukannya? Semua itu membuatnya
semakin galau. Tiba-tiba HP-nya bergetar.
1 New Message tertera pada layar touchscreennya.
from : AresDir, tlg tmenin gw. Plis…
to : Ares
kmna?
from : Ares
Kafe, bwt ngerayain kmenangan tim basket kmrin. Gw udh d dpan rmh lo.
Dira menyibakkan gorden jendela kamarnya. Dan ternyata Ares sudah bertengger santai di atas motor sportnya. Hhh… Dira menghela nafas berat. Sebenarnya Dira ingin menolak tapi melihat Ares sudah berada di depan rumahnya, dia urung menolak. Tanpa membalas SMS dari Ares, Dira segera bersiap-siap.
Bukannya mengajak Dira ke kafe seperti yang ditulis pada SMSnya tadi, Ares malah mengajak Dira mengelilingi pusat kota. Di sebuah bukit yang dihiasi dengan banyak lampion Ares menghentikan laju motornya. Dari atas bukit itu mereka bisa melihat bintang dengan jelas. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kok ke sini, katanya mau ke kafe?” tanya Dira memecah keheningan.
“Gue males ke sana, pasti ada Lala. Semakin hari semakin muak gue sama tingkahnya.” jawab Ares. Dira hanya mengangguk. Mereka kembali terdiam.
“Dir…” panggil Ares.
“Ya.” jawab Dira.
“Mau sampai kapan kayak gini?” tanya Ares tanpa menatap Dira.
“Maksud lo?” Dira balik bertanya, bingung dengan pertanyaan Ares.
Ares justru diam tanpa menjawab pertanyaan Dira. Melihat Ares tidak bereaksi, Dira pun ikut diam. Hening. Lagi-lagi hanya keheningan yang tercipta.
Ares kembali buka suara. “Mau sampai kapan lo jadi seperti bintang-bintang itu?” tanya Ares menunjuk taburan bintang di langit, “selalu ada walaupun nggak selalu nampak?”
“Gue nggak ngerti sama omongan lo, Res.” Dira pura-pura.
“Lo ngerti kok, kenapa sih lo lebih seneng nyakitin hati lo sendiri dari pada nunjukin perasaan lo ke gue kayak cewek-cewek lain, kayak Lala misalnya. Kenapa Dir?” Ares menatap Dira.
“Lo udah tahu ya, pasti Alin kan? Hh…” Dira menghela nafas, “gue punya cara sendiri buat mencintai lo. Lo suka bintang dan gue pengen jadi seperti bintang. Selalu ada meskipun lo nggak selalu liat gue. Yang penting gue bisa selalu liat lo. Buat gue semua itu udah cukup bikin gue seneng, Res.” jelas Dira berkaca-kaca.
“Lo tahu nggak Dir, gue ngerasa bersalah dan nyesel banget saat Alin cerita semua tentang lo. Selama ini gue deket sama beberapa cewek dan seneng-seneng sama mereka. Tapi tanpa gue sadar, gue udah bikin hati salah satu cewek yang selalu baik sama gue remuk. Hancur berantakan.” kata Ares penuh penyesalan.
“Lo nggak boleh ngerasa kayak gitu, Res. Lo nggak salah sama sekali. Semua ini kemauan gue sendiri. Dan sekarang kan lo udah tahu, gue udah seneng kok. Mulai saat ini lo nggak perlu mikirin perasaan gue lagi karena mulai malam ini juga gue akan lupain perasaan gue ke lo selama ini.” Dira mengucapkannya dengan air mata yang membasahi pipinya.
“Kok lo seenaknya gitu sih, Dir. Lo pikir gue akan biarin cewek yang udah gue sakitin dan gue cintai selama ini pergi gitu aja? Dan lo pikir cuma lo doang yang jadi seperti bintang-bintang itu? Gue juga Dir, gue cowok pengecut yang nggak berani ungkapin cinta sama lo selama 4 tahun!” kata Ares keras.
“Ares, ja.. jadi selama ini lo…”
“Iya, gue juga cinta sama lo selama 4 tahun ini. Gue kira dengen deket sama beberapa cewek bisa buat gue lupain perasaan gue ke lo. Tapi nyatanya gue nggak bisa, gue semakin tersiksa dengan perasaan yang gue pendam. Dan saat gue mau ungkapin semua ke lo, gue lihat lo lagi deket sama Ryan. Akhirnya gue nggak pernah ungkap perasaan gue ke siapapun sampai Alin cerita perasaan lo ke gue.” potong Ares.
“Gue emang sempet deket sama Ryan tapi perasaan gue ke lo terlalu kuat, nggak ada yang bisa memudarkan cinta gue sama lo.” Dira menyeka air matanya.
“Gue tahu… sorry ya udah bikin hati lo terluka.”
“Gue juga, sorry udah bikin lo kesiksa.”
“Dir, sekarang di bawah cahaya bulan dan di bawah tatapan bintang-bintang di langit malam ini, aku pengen kamu jadi bintang di hatiku. Bintang yang akan selalu bersinar dan terus nampak di hatiku kapanpun. Nggak peduli siang atau malam, nggak peduli panas atau dingin. Berapapun jumlah bintang yang ada di langit, seterang apapun mereka, aku nggak peduli. Cuma kamu satu-satunya bintang yang paling terang buat aku. Kamu mau kan jadi bintangku selamanya?” Ares menggenggam tangan Dira erat.
Dira kembali meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Serasa mimpinya menjadi kenyataan.
“Kamu serius kan, Res, bukan karrna kasihan sama aku?” tanya Dira memastikan.
“Bukan cuma serius bahkan seratusrius, Dir. Percaya sama aku. Aku akan bahagiain kamu. Kata-kataku tadi bukan gombal atau sebatas rayuan.” jawab Ares mantap.
“Gimana, Dir?” tanya Ares tak sabar.
“Aku rasa, aku udah nggak bisa lagi nahan perasaanku ke kamu.” jawab Dira.
“Maksud kamu, Dir?”
“Ya, aku mau jadi bintang di hati kamu selamanya.”
“Makasih, Dir.” Refleks Ares memeluk Dira, “Aku janji bakal jagain kamu, nggak akan aku biarin kamu berhenti bersinar.”
Ares melepaskan pelukannya. Dia menatap Dira dalam. Keduanya lalu tersenyum.
“Sekarang jadi aku – kamu ya?” kata Dira menyandarkan kepalanya di bahu Ares.
“Nggak papa biar kedengaran romantis.” ujar Ares seraya membelai rambut Dira.
Malam itu Ares dan Dira menghabiskan malam minggu berdua di bukit yang mereka namakan bukit bintang sambil mengamati indahnya hamparan bintang yang bersanding dengan bulan di langit. Tanpa mempedulikan teman-teman Ares yang tengah menunggu sang kapten untuk merayakan kemenanngan tim basketnya.
Bintang itu kini tidak lagi bersembunyi, bintang itu kini akan selalu ada dan selalu nampak. Di hati Ares dan Dira tentunya.