" Apakah bedanya cinta dengan ketertarikan sesaat? Apakah bedanya benar-benar ingin bersama dengan hanya sekedar takut sendirian? tanya hatimu. "
Apa yang membedakan cinta dengan ketertarikan sesaat?
Ketertarikan sesaat? Pernahkah kau mendengar bahwa cinta itu datang dari mata turun kehati? bagiku tidak. Yang datang dari mata turun kehati itu bukanlah cinta melainkan ketertarikan sesaat. Ketertarikan dimana kau ingin memilikinya. Seperti kau sedang melihat gadget android baru atau blackberry Z30 terbaru? itu yang kusebut dengan ketertarikan sesaat. Lantas setelah kau memilikinya? mungkin kau akan bertahan sampai dua tahun dengannya. Selanjutnya kau akan tertarik dengan BB atau Android keluaran terbaru untuk kesekian kalinya. Lantas apakah itu yang disebut dengan cinta? Apakah cinta itu artinya tertarik lalu bosan?
bagiku bukan, Contoh cinta yang paling sederhana adalah 'Orangtua' Dimana kau tak bisa memilih ayah dan ibumu. Dimana kau tak bisa memilih kecantikan atau ketampanan ibu dan bapakmu. kesempurnaan mereka, kekayaan mereka, dan pekerjaan mereka. Itulah cinta, dimana saat kau tidak pernah berfikir untuk menggantikan mereka dengan orang lain. Pernah berfikir jikalau ibumu meninggal dan ayahmu akan menikah lagi, sekalipun calon ibumu sangat cantik dan sangat kaya. banyak diantaramu pasti akan berkata "Tidak" yah, karena kau telah mencintai ibumu. Dan kau yakin tak akan ada yang pantas mengantikan posisinya. itu yang ku anggap perbedaan cinta dan ketertarikan sesaat.
Lalu... Apakah bedanya benar-benar ingin bersama dengan hanya sekedar takut sendirian?
Takut sendirian? Pernahkah kau sangat ingin buang air kecil lalu dalam sekejab kau ketakutan dengan lampu yang sama sekali tak menerangi?. yah itulah yang disebut dengan takut sendirian?. Ataukah takut sendirian yang dimaksud disini adalah takut jomblo dan menerima banyak sindiran tweett dan retweet di twitter oleh akun anonim? atau bahkan temanmu sendiri?. Takut sendirian hanya butuh teman. kau tak butuh kekasih kenapa? karena kekasih tak untuk digonta-ganti atau diperbanyak seperti teman.
Sedangkan, Benar-benar ingin bersama? Pernahkah kau sedang berada disuatu tempat yang paling indah didunia ini dengan keluargaamu? lalu kau merasa ada yang kurang. Kau merasa tak lengkap jika tak ada kekasihmu disana? atau siapapun yang akan membuat harimu indah. yah itu lah yang disebut dengan benar-benar ingin bersama. Singkat katanya seindah apapun tempat itu, Seramai apapun tempat itu, Semewah apapun tempat itu. Kau akan merasa lebih bahagia jikalau bersamanya sekalipun itu hanyalah dirumah makan sederhana.
Lalu, setelah kau puas dengan jawabanku.
Ku ingin kau menemukan sendiri jawaban dari pertanyaanku ini.
" Selama ini apa yang kau rasakan, Mencintai karena butuh? atau Butuh karena mencintai? "
Lalu..
" Apakah Daun gugur yang meninggalkan pohon atau Pohon yang menanggalkan daun ? "
Sekali lagi tanya hatimu...
Sabtu, 28 September 2013
Senin, 05 Agustus 2013
Kamu Belum Tahu Rasanya Menjadi Aku
purnama indah mengintip dari gulitanya malam kemarin. purnama itu,
membuat aku merinding kesakitan. bukan tubuhku, tapi jeritan batinku
yang kian lama merontakan namamu. kian lama kian menggerogoti relung
jiwaku. aku mungkin yang terlalu lama menyikapi, kau hanyalah bualan
senja kemarin yang sudah tertelan mentari. aku dengan segala upayaku
menopang kaki, untuk berdiri. aku sudah jatuh sejak lama dan kau
penyebabnya.
untuk apa aku mempertahankan rasa aneh ini selama bertahun-tahun? kau
tak pernah menggubris kesakitanku, apalagi penantianku. kau datang dan
pergi sesukamu, menyematkan pelangi lalu memberikan badai setelahnya,
begitu berulang-ulang. dan dengan keseringan, aku memaafkan dan terus
menunggu kepulanganmu.
aku, menuai luka hari demi hari, melihatmu dengan mudah berganti hati.
sukma kalbu suci yang selalu kau ceritakan padaku tempo dulu, apa
seperti itu? kau yang mengajariku tentang ketulusan tapi malah kau yang
tak terbiasa pada ucapanmu. dengan mentah kau ucapkan, aku tak berarti,
kau pergi lalu menarikku kembali. untuk berapa lama lagi kau akan
seperti ini?
pernahkah sedikit saja di pikiranmu merasakan menjadi aku?
aku yang rela menghabiskan waktu untuk menunggu kepulanganmu,
menggenggam seluruh harapan bahwa kau akan menyematkan jemarimu di
sela-sela jemari kecilku, aku yang terus berusaha menjadi lebih baik
untukmu, aku yang terbiasa kau buang, aku yang selalu bergegas
menghampirimu ketika tak ada satupun manusia yang ingin mendengarkan
jeritanmu, aku. aku yang selalu ikhlas kau tinggalkan setiap saat.
adakah batinmu bisa bertahan lebih lama seperti ini? jangan kau pikir
menunggu itu tidak sakit. seperti dua mata pisau yang siap menusuk
ubun-ubunmu kapanpun ia ingin. dan aku? bertahan karena besarnya cinta
itu.
jika, kau berfikir aku terlalu berlebihan biar ku katakan satu hal padamu, 'kau tak akan pernah merasakannya sebelum itu terjadi pada hidupmu'.
aku mengerti kebodohan itu semakin menyelimuti, aku tak pernah meminta
rasa ini berlama-lama menetap, hanya saja kecintaanku terlalu
mengharapkan sosokmu mengisi labirin kosong yang telah lama usang. bukan
aku tak berniat pergi, tapi hatiku terus memanggilmu, hatiku terus
meminta untuk mendampingi sosokmu yang sudah jauh melupakan rumahnya
semula. ada yang salah dengan jalanku?
apa kau tau dalam heningnya malam aku menjeritkan namamu dalam isakan
tangis? isakan tangis yang tak pernah kau hapus walau kau kerap kali
melihatnya jatuh berlinang saat tanganmu melepas jemariku? meraung
kesakitan sendiri, lalu menyadari kau tak lagi peduli.
seandainya waktu bisa membuatmu menyadari, akulah selama ini gadis yang
tetap utuh mencintaimu, akankah kau kembali berpaling padaku lagi?
seandainya waktu bisa membuatmu tersadar, betapa sulitnya aku
mencintaimu, karena kamu belum tau rasanya menjadi aku yang mencintaimu
tanpa dendam.
Sabtu, 20 Juli 2013
Aku Juga Bisa Berharap
Datang untuk pergi, memulai untuk di akhiri. tapi kita? berada di tengahnya, aku lelah'
aku
terperangkap. benar sekali dalam jeratan mu. yang kau lemparkan tepat
di jantung hatiku. saat awal yang tak pernah terduga, saat yang tak
pernah aku bayangkan, kau hadir. pelan-pelan mengenalkanku pada sebuah
rasa. rasa yang sudah sekian lama tak ku bongkar. kau mengorek pelan,
lalu menyembulkannya ke permukaan; aku jatuh cinta.
waktu
lalu, saat mulanya perkenalan itu, kau memberiku satu rasa. kau
mengaplikasikannya dalam kadar sederhana. aku tak menuai terlalu banyak,
tapi kau menyiramnya dengan sempurna membuat aku, dan hatiku jatuh
padamu. tepat sasaran, aku menyayangimu. panggilan unik kita ciptakan,
seolah itu hanya kita miliki. perhatian dan pengertian, membuat aku
sulit membendung rindu ingin berjumpa. walau tak pernah sempat, kita
selalu berusaha meyakinkan. petikan gitar halus dan suara beratmu
memenuhi pendengaranku. benar, aku damai setelah mendengarkan lagu yang
kau persembahkan itu. seperti katamu 'kau menyayangiku'.
kian
janggal, waktu memutar segalanya dengan cepat. kau ceritakan masa
lalumu, yang tak henti-hentinya meresahkanmu, membuat kau sulit dalam
berbagai hal hingga pelan dalam ketidak berdayaanku, kau lebih meminta
mundur sesaat pada kita yang belum memulai apapun. aku? hanya bisa
melepasmu pergi. sesering apapun kau ucapkan 'aku perempuan yang terlalu
baik' tetap saja kau tak bisa memilihku bukan?
selang
kemudian, pudarmu membuat nyeri ulu hatiku. kita, tak lagi berbagi
kisah. kau, ternyata tengah berbahagia dengan kekasih barumu. aku,
tersenyum memberi selamat dengan kecut, tak kau tanggapi. kita
benar-benar hilang. sulitnya aku percaya, kau pergi untuk menyelam pada
lautan indah lain hingga kau memilih menetap disana semenatara. dan
akhirnya waktu Tuhan membuka peluang untuk kita berkomunikasi kembali,
kau dan aku saling memberi salam canggung. tak hangat lagi, kau masih
bersamanya dan aku masih mengerutkan hati yang terus-menerus remuk.
sampai pada akhirnya, kita cairkan suasana, kita kembali dengan gelak
tawa. hingga dinding rapuh yang sempat ku bangun ketika kepergianmu
sirna sudah, runtuh tak bersisa. aku kembali kepada perasaan awal.
kita
masih berbagi kisah menarik, rekaman suara dan yang terlebih dengan
sengaja ataupun tidak sengaja kau, menceritakan segala hal tentang
kekasih barumu, yang telah memilikimu. hingga hemoglobinku memanas,
denyutku tak bercelah, aku terluka sekali lagi. kau beri aku nyawa untuk
kau matikan sekali lagi. aku menangis. benar aku mengisi ulahmu, untuk
apa kau datang kembali setelah rasa lalu kau pudarkan tanpa angin dan
hujan?
aku
tak mengerti hatiku, kau kerap kali mengecewakan dan bahkan aku dengan
segenap hati memaafkanmu kembali. kau kira memiliki perasaan ini tidak
sulit? kau yang hanya datang untuk pergi membuat aku menggantungkan
setiap cerca harapan pada tiap sudut kepingan waktu. melogiskan fikiran,
disaat kontaminasi hati kuat pada memori mu, aku tak berdaya!
jadi,
kau datang lagi. aku masih menolerir dengan segenap harapan kau
berbalik memilihku. kau bercerita, kau dan dia berakhir. hatiku sedikit
lega, bukan aku ingin egois, setidaknya kalimatmu itu membuat relungku
sedikit damai dari rasa sakit yang selama ini kurasa. kau kembali,
disisiku berbagi cerita lagi. kali ini kau membuatku kian tak bisa
menghentikan perasaan ini. benar, aku sudah terlanjur menyayangimu.
hingga
hari ini, kita masih bersama tanpa ikatan apapun, membuat aku terus
bersabar menunggu kepastianmu. aku tak memaksa apa yang seharusnya aku
pertanyakan, aku biarkan kau mengaturnya. selama ini, apa aku meminta
banyak? satupun tidak.
lagi-lagi,
akhirnya aku lelah pada cerita ini, bukan hatiku, tapi cerita kita.
kita tak pernah memulai apapun. tidak sekalipun. kita hanya
membiarkannya mengalir. hingga jantungku bergetar, apa benar hatimu
untukku? aku yang tak mengerti, terus berpegang teguh pada pondasi
harapan sendu yang kian lama tak menepi jua. seperti pada lingkaran yang
hanya berkutat diputaran itu saja.
selayaknya
perempuan, aku wajar tidak memulai. aku terlalu menghargaimu,
perasaanku dan penantianku yang mengajarkan aku untuk tak meminta
banyak. aku terbiasa berharap dan berandai-andai, kau dan aku benar
menjadi kita suatu saat. apa mungkin? aku peremuan, aku juga bisa
berharap.
kita
tak menemui tepian, apa karena samudera terlalu luas, apa yang harus
kita lakukan? haruskah aku yang berjuang sendiri? bukankah, semua akan
terwujud jika kedua belah pihak sama-sama berjuang?
'it when, i knew what love is = Not Lead'
Jumat, 19 Juli 2013
ANANDA
“Aku
Tak tau sampai kapan Aku seperti ini, berpura-pura setiap saat
seolah-olah Kau hanya sahabat biasa bagiku namun sebenarnya aku sangat
menyanyangiMu”.
Hai
Semua perkenalkan namaku ANANDA VILIA PUTRI, oleh teman-teman Aku biasa
dipanggil Lia tapi oleh orang terdekatku aku biasa dipanggil Nanda.
Diatas adalah ungkapan hatiku yang hanya bisa Aku pendam dalam hati.
selama ini aku mencintai dan menyayangi Adit Sahabatku namun aku tidak
berani mengatakan dan menunjukannya pada Adit. Aku takut merusak
persahabatan kami dan aku takut melukai hati Vita sepupuku yang baru 1
bulan ini menjalin hubungan dengan Adit.
Awalnya
aku sedih, dan amat kecewa atas keputusan Adit itu tapi Aku juga tidak
mau merusak kebahagian Adit dan Vita sehingga dengan berat hati Aku
merelakan Adit untuk Vita. Aku ingat disuatu sore yang cerah saat Aku
dan Adit sedang latihan basket Adit mengatakan semua isi hatinya
kepadaku dan bilang akan menyatakan perasaanya pada Vita pada hari
Valentain 2 hari lagi, saat mendengar perkataan Adit itu aku seperti
disambar petir sore hari, aku tidak menyangka kalau Adit benar-benar
menyukai Vita, aku kira dia hanya sebatas kagum saja pada Vita yang
cantik dan pintar, namun ternyata dugaanku itu salah.
“ Kamu kenapa Nan?”
Tanya Adit saat melihatku mendadak bengong. “eh gak kenapa-kenapa kok
Dit” ucapku berbohong tetapi jawabanku itu tidak dipercaya Adit dan dia
masih memandangku tajam membuatku salah tingkah namun Aku berusaha
mengelak dan Aku bersyukur karena kecurigaaan Adit padaku bisa hilang.
Hari
Valentain tiba sesuai rencana malam itu Adit menjemput Vita di rumah
dan mengajak Vita pergi, setelah mereka meninggalkan rumah tinggalah Aku
dan mamaku yang memandang heran ke arahku, “ Tumben Kamu gak ikut pergi
Nan?” Tanya Mamaku heran.” Nanda lagi
males keluar Ma” ucapku singkat. “Ya udah deh Ma Nanda masuk kamar dulu
ya” pamitku pada Mama yang dijawab anggukan Mama. Di Kamar aku berusaha
mencari kesibukan dengan membaca buku, mendengarkan musik dan
Facebookan, namun tetap saja itu semua tidak bisa membuat hatiku tenang
karena yang ada di otakku saat itu Cuma Adit dan Vita.
Beberapa jam kemudian saat Aku sedang duduk di samping jendela kamar
Aku mendengar suara mobil Adit membuat kakiku refleks melangkah untuk
menghampiri Adit di bawah, namun mengingat Vita Aku langsung
mengurungkan niatku. Tidak lama kemudian Aku mendengar suara langkah
menuju kamarku dan aku langsung berpura-pura sedang chatingan.
“Tok…Tok...”
terdengar suara ketukan pintu, “ Ya masuk” sahutku singkat, setelah
pintu terbuka berdirilah Vita dengan muka sumringah dan dia langsung
menghampiriku dan memelukku, “Nan Aku udah jadian sama Adit, aku senang
banget” ucap Vita berapi-api, “ Wah selamet ya” ucapku berusaha
tersenyum tegar. “ Thanks ya Nan” jawab
Vita melepas pelukannya setelah itu Vita langsung menceritakan apa saja
yang terjadi tadi saat Adit menyatakan perasaannya. Saat mendengar
cerita Vita hatiku semakin hancur, ingin rasanya Aku menjerit meminta
Vita menghentikan ceritanya namun aku tak kuasa melakukannya sehingga
dengan sangat berat hati aku berusaha tetap tersenyum seolah Aku ikut
bahagia mendengarkan cerita Vita. baru saja Vita selesai bercerita
handphonenya berbunyi dan Vita bilang itu telepon dari Adit dan Vita
langsung pergi meninggalkan kamarku.
Sepergian
Vita Aku segera mengunci pintu kamarku dan Aku langsung menumpahkan
segala kesedihan dan kekecewaanku melalui tangis. saat sedang menangis
itu handphoneku berbunyi dan itu adalah telpon dari Adit walau berat aku
tidak mau menjawab telpon itu Karena Aku tidak mau Adit tau Aku
menangis.
Keesokan
paginya Aku bangun lebih awal Aku tidak tau sudah berapa lama aku
menangis yang aku tau mataku terasa panas dan terlihat bengkak, tapi itu
tidak cukup karena saat ingat ucapan Vita semalam aku merasa air mataku
ingin mengalir kembali namun aku berusaha menahannya, aku tidak mau
membuat mataku makin bengkak karena menangis. tidak lama kemudian Mama
datang membawa sarapan kekamarku karena aku bilang mau sarapan dikamar.
Saat melihat mataku bengkak Mama kaget dan mulai mengintrogasiku,
setelah aku menceritakan semuanya mama hanya bisa diam dan memintaku
untuk sabar dan tegar.
Siang
harinya saat Aku sedang duduk di teras depan rumah, Adit datang. “Hai
Dit, Vita lagi keluar tuh” jawabku setelah Adit duduk disampingku, tapi
bukannya menjawab Adit malah langsung memegang keningku, “ apaan sih
Dit” protesku sambil memindahkan tangannya dari keningku. “ Kata Vita
Kamu sakit?” Tanya Adit prihatin hal itu membuatku sedikit kaget dan aku
tau itu pasti kerjaan Mama supaya Vita tidak mengajakku pergi hari ini.
“ Hei kok malah bengong sich, kamu sakit apa?” Tanya Adit
mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. “iya tadi pagi badanku
agak panas tapi sekarang panasnya udah turun kok jadi gak usah khawatir
deh” jawabku santai
“
Yee.. siapa juga yang khawatir, GR” ucap Adit jutek, “ alah ngaku aja
deh, kalau enggak ngapain juga kamu dateng-dateng langsung meriksa
keadaanku dan nanya aku sakit apa enggak?” ucapku meledek Adit dan
menyenggol bahunya hal itu membuat Adit gemas dan mencubit pipiku, “
Adow sakit tau Dit” protesku cemberut tapi Adit malah tertawa, “Iii..
jahat banget sih kamu Dit teman lagi sakit malah diketawain” ucapku
pura-pura marah tapi Adit tetap saja tertawa, “ ADIT DIEM” perintahku
keras dan beranjak bangun tapi Adit mencegahku dan memegang tanganku
memintaku untuk duduk kembali, “ iya deh maaf aku gak bermaksud
ngetawain Kamu kok” jawab Adit serius, “ Jangan marah ya” rayu Adit
terseyum. “ Gotcha” ucapku sambil tertawa membuat Adit kaget dan makin
gemas padaku dan langsung mengejarku yang sudah berlari ke halaman
belakang rumah,
“Nah
kena Kamu Nan” ucap Adit setelah berhasil menangkapku dan memelukku
dari belakang. “ADIT” ucap seseorang dibelakang kami hal itu membuat
kami refleks menoleh, kami kaget banget saat melihat Vita sudah berdiri
dibelakang kami membuat kami berdua saling melepaskan diri. “Vit ini gak
seperti yang Kamu fikirin” jawab Adit bingung sedangkan aku hanya bisa
diam. “apaan sich Dit, santai aja lagi Aku gak kenapa-kenapa kok” jawab
Vita tersenyum dan melangkah menghampiri kami hal itu membuat Aku dan
Adit menghela nafas lega. “ Nanda gimana keadaanmu?” Tanya Vita lagi,
“Alhamdulillah aku udah baikan kok Vi, Thanks ya buat perhatian-Mu”
ucapku tersenyum.
Keesokan
harinya saat Aku tiba di sekolah Rahma sudah menungguku, dan saat dia
melihatku dia langsung menghampiriku, “ Pagi Nanda, tumben gak bareng
sama Adit?“ Tanya Rahma saat melihatku datang sendirian. Belum sempat
Aku menjawab pertanyaannya Adit sudah datang dengan Vita sambil
bergandengan tangan hal itu membuat Rahma mengeryitkan alis ke arahku,
“Pagi Nanda, Pagi Rahma” sapa Vita saat sampai ditempat kami. “Pagi juga
Vita” jawab kami berbarengan. “ Oke deh semua Aku kekelas dulu ya” ucap
Vita pada kami yang di jawab anggukan Adit.
Setelah
Vita pergi Rahma langsung memandang Adit seolah meminta penjelasan
untuk apa yang dilihatnya barusan, “Aku udah jadian sama Vita Ma” jawab
Adit tersenyum. “WHAT??” ucap Vita refleks, “Kamu serius Dit?” Tanya
Rahma gak percaya, “ iya aku serius, emang Nanda gak ada bilang sama
kamu ya?” Tanya Adit heran Rahma menggeleng kali ini giliran Adit yang
mengeryitkan alis ke arahku, “Eits santai Dit, tadi aku udah mau bilang
tapi belum sempat Aku bilang Kamu udah datang sama Vita, ya udah Kamu
jawab sendiri deh pertanyaan Rahma itu” ucapku dengan tampang polos
tanpa dosa membuat Adit gemas dah langsung mencubit pipiku, “ Adow sakit
tau Dit” protesku dengan tampang jutek. “ hehe… maaf deh habis kamu
lucu sich” jawab Adit santai. “emangnya boneka lucu?” ucapku sewot
langsung melangkah menuju bangkuku.
“ Hei tunggu Nan”
ucap Adit memegang pergelangan tanganku, “ada apa lagi Adit?” tanyaku
setelah berbalik memandangnya, “kenapa pas itu Kamu gak jawab telponku?”
Tanya Adit langsung tanpa basa-basi, “O,,pas itu aku udah tidur Dit
maka-nya gak ngankat telponMu deh, Maaf yow” ucapku santai sambil
menepuk bahunya pelan, “ trus kenapa paginya Kamu gak nelpon aku balik?”
Tanya Adit lagi, “Pulsaku habis Dit dan Aku gak bisa beli karena pas
itu kan
Aku lagi sakit” jawabku berbohong untuk membela diri membuat Adit
terdiam sejenak dan kemudian tersenyum hal itu membuatku bersyukur
karena penjelasanku diterima Adit.
Istirahatpun
tiba saat aku dan Adit sedang berjalan beriringan menuju kantin
terdengar suara wanita “ Adit” ucap seorang cewek dari dalam kelas yang
kami lewati,dan itu adalah suara Vita. Setelah Vita berkumpul bersama
kami Aku segera pergi karena kebetulan Rahma datang dan memintaku untuk
menemaninya ke koperasi. “Nanda sejak kapan Adit jadian sama Vita?”
Tanya Rahma tiba-tiba saat Kami keluar dari koperasi. “Sejak malam
Valentain Ma, emang kenapa?” tanyaku heran. “ terus Kamu baik-baik aja kan?”
Tanya Rahma lagi membuatku makin heran. “ iya aku baik-baik aja emang
kenapa sich Ma?” tanyaku semakin penasaran. “Kamu gak usah bohong deh
Nan Aku tau kok sebenarnya kamu sedih dan kecewa banget kan karena Adit
gak milih kamu melainkan Vita sepupumu” ucap Rahma panjang lebar “apaan
sich Ma, jangan ngelantur gitu deh ngomongnya” ucapku pura-pura tertawa.
“Nanda Aku udah kenal Kamu dan Adit dari dulu jadi Aku tau gimana
hubunganmu sama Adit” ucap Rahma serius. “Maksudmu apa sich Ma aku gak
ngerti deh” ucapku polos.
“ udah deh Na Kamu gak usah ngeles terus Aku tau kok kalau Kamu sebenarnya suka sama Adit kan?”
tebak Rahma langsung tanpa basa-basi membuatku kaget “apaan sich Ma
jangan bikin gosip deh, Adit itu sahabatku kali” ucapku tertawa. “oke,
kalau gitu ikut aku” ucap Rahma langsung menyeretku ke halaman belakang
sekolah. “ngapain kita kesini Ma?” Tanyaku heran sambil memandang
keliling taman, tapi Rahma tidak menjawab dan duduk di kursi yang
terletak didekat kami.
“Sekarang kamu pandang mataku Nan dan bilang Kamu gak suka sama Adit” ucap Rahma serius sambil terus memandangku, “kok diem Nan
jawab donk” desak Rahma. membuatku kehilangan kata-kata. “Oke, jujur
aku memang ada perasaan sama Adit tapi PLEASE jangan bilang sama
siapa-siapa ya tentang ini Aku gak mau jadi bahan gosip” pintaku pada
Rahma. Rahma diam sejenak sebelum berkata “ oke, terus Kamu mau gimana
sekarang Nan?” tanya Rahma memandangku penuh tanya.
“Aku
juga gak tau Ma yang jelas Aku tetap mencintainya walaupun Aku tidak
mungkin bisa memilikinya namun aku sudah cukup bahagia bila dia berada
disampingku, sedih memang tapi aku yakin ini jalan terbaik buat kami,
kalau memang dia jodohku pasti dia akan menjadi milikku” Jawabku
panjang lebar membuat Rahma terkesima dan memandangku kagum “Wow
kata-katamu dalam banget Nan” jawab Rahma tersenyum. “Sumur kali dalam”
ucapku tertawa , “ Hehe… Aku serius tau Nan,
malah ketawa” ucap Rahma ikutan tertawa. “Oke..oke, Thanks ya Ma buat
pujiannya” jawabku sambil terseyum.”sering-sering aja ya Ma muji Aku”
lanjutku sambil tertawa “Huh ngarep” ledek Rahma tersenyum. “ya udah
balik kekelas yuk bentar lagi bel masuk nich” ucapku sambil melirik jam
tanganku namun Rahma segera mencegahku, “ada apa Ma?” tanyaku heran
“Nanda Kamu sabar aja ya, mungkin bentar lagi Kamu bakalan dapat cowok
yang bisa gantiin posisinya Adit di hatimu kok” jawab Rahma tersenyum
sambil melangkah pergi. “ kok Kamu bisa ngomong gitu Ma?” tanyaku heran
tetapi Rahma hanya tersenyum penuh misteri membuatku makin heran.
Keesokan
harinya saat aku baru masuk gerbang sekolah Aku bertabrakan dengan
seorang pria, “ Hei kalau jalan pakai mata donk jangan pakai kaki aja”
omel orang itu langsung. “ Hei kamu tuh yang jalan – jalan gak pakai
mata” balasku kesal. “apa lihat-lihat” Jawabku galak saat cowok itu
memandangku tajam. kemudian kami saling membalikan badan dan melangkah
pergi. Sepanjang perjalanan menuju kelas aku masih terbawa emosi karena
peristiwa tadi “ dasar cowok gila” teriakku kesal membuat orang-orang
disekelilingku refleks memandangku tapi Aku tidak perduli.
“ Pagi Nanda” sapa Rahma “Pagi” balasku jutek. “ Kamu kenapa Nan
kok jutek banget sich” tanya Rahma heran, duduk di bangkunya yang
berada tepat di depanku. Belum sempat aku jawab Adit datang “ Pagi Nanda
pagi Rahma” sapa Adit ramah. “Pagi” jawab kami berbarengan. “ Kamu
kenapa Nan kok tampangmu jutek gitu”
tanya Adit heran sambil meletakan tas di meja. “Tau tuh Dit
datang-datang Nanda udah jutek gitu bikin Bt aja” protes Rahma
cemberut. “Sorry deh Ma Aku lagi kesel nih gara – gara ketemu sama cowok
gila” jawabku masih emosi. “cowok gila?” tanya Rahma dan Adit bareng.
“iya cowok gila” ucapku kesal dan menceritakan peristiwa menyebalkan
tadi pagi mendengar ceritaku, Rahma dan Adit bukannya simpati malah
tertawa membuatku makin kesal dan aku segera melangkah keluar kelas.
Saat
Aku berjalan melewati toilet pria, lagi-lagi aku bertemu dengan cowok
yang tadi pagi bertabrakan denganku dan lagi-lagi kami bertabrakan.
“Kamu lagi, Kamu lagi. Kamu beneran gak punya mata ya jalan nabrak
terus?” omel cowok itu lagi, “ eh kalau ngomong di jaga ya kamu tuh yang
gak punya mata” balasku gak kalah emosinya dan langsung melangkah pergi
kali ini aku bener – bener emosi banget dan aku berharap gak akan
ketemu lagi sama cowok gila itu.
Bel
masuk berbunyi Aku segera kembali kekelas disana sudah ada Adit dan
Rahma yang sedang mengobrol dan saat mereka melihat aku masuk Rahma
segera menghampiriku “Nan maaf ya soal tadi Aku dan Adit gak bermaksud
ngetawain Kamu kok, Beneran deh, iya kan Dit” tanya Rahma pada Adit yang
dijawab anggukan kepala Adit, “iya gak apa-apa, tapi lain kali jangan
gitu lagi ya” ucapku pada mereka. “Siip” jawab Rahma mengacungkan ke dua
ibu jarinya. “Oke bos” jawab Adit langsung merangkul Nanda. “ By The
Way Kamu kenapa Nan kok kayaknya lagi
emosi gitu?” tanya Adit saat melihat tampangku yang emosi. “aku ketemu
lagi sama cowok gila itu” jawabku jutek, “sumpah ya tuh cowok
bener-bener nyebelin banget, Aku gak mau ketemu lagi sama dia” lanjutku
penuh emosi. “ Sabar Nan, emang dia ngapain Kamu sich?!” sambar Rahma
sebelum Adit bersuara membuat Adit melotot ke arah Rahma karena
dialognya direbut Rahma namun Rahma tidak perduli. “udahlah gak usah
dibahas lagi bikin emosi aja” jawabKu jutek membuat materi pembicaraan
tentang cowok gila itu selesai sampai disitu.
Bel
pulangpun berbunyi aku serta teman-temanku yang lain segera berhamburan
keluar kelas saat aku sedang melangkah kearah parkiran bersama Vita aku
melihat melihat cowok yang dari tadi bertabrakan denganku sedang duduk
di kantin, “Sit” ucapku refleks membuat Vita kaget dan reflek menoleh ke
arahku. “Kamu kenapa Nan?” tanya Vita langsung. “eh… gak ada apa-apa kok Ta udah yuk pulang” ucapku berbohong.
Seminggu kemudian saat aku baru pulang dari latihan basket aku mencium
bau kue dari arah dalam rumah dan Aku langsung melangkah ke arah dapur
disana aku melihat Bibi sedang sibuk membuat kue. “Hai Bi lagi buat apa
sich?” tanyaku penasaran, “ini lagi Bantu Non Vita bikin kue Non katanya
mau ada acara nanti malam” jawab Bi Ami, “O..gitu, trus Vitanya mana?”
tanyaku celingukan kesekeliling rumah belum sempat Bibi menjawab Vita
sudah turun dari kamarnya, “Hai Nan udah pulang” sapa Vita saat
melihatku, “Yups, emang mau ada acara apa nanti malam Ta?” tanyaku
balik. “Belajar kelompok Nan soalnya 2
hari lagi tugas kelompoknya dikumpul” jawab Vita tersenyum, “O..gitu, ya
udah aku bantuin deh bikin kuenya tapi aku mau naruh ini dulu ya
sekalian mau mandi” ucapku langsung melangkah ke kamar untuk
bersiap-siap. “Oke deh Nan Thanks before ya” ucap Vita tersenyum. “Sip”
ucapku singkat sambil mengacungkan jempol. 15 menit kemudian aku kembali
dan segera bergabung dengan Bi Ami dan Vita untuk membuat kue.
Malam harinya saat aku baru datang dari Mini Market aku melihat garasi
rumahku penuh dan Aku yakin teman-teman Vita sudah datang sehingga Aku
berinisiatif untuk lewat pintu belakang karena Aku tidak mau menganggu
konsentrasi Vita dan teman-temannya. Namun saat Aku masuk lewat pintu
belakang bertepatan dengan saat seorang cowok keluar dari toilet “KAMU”
ucap kami sama kagetnya, “ngapain Kamu disini?” tanyaku langsung belum
sempat cowok itu menjawab Vita datang dan ikutan kaget saat melihatku
sudah ada di situ, “Nanda Kamu kapan datengnya?” tanya Vita heran, “baru
aja” jawabku singkat. “oya Nan kenalin ini Robi temanku dan ini Nanda
sepupuku” ucap Vita memperkenalkan kami berdua tetapi Vita jadi heran
karena kami tidak mau berjabatan tangan “Hei kalian kenapa sich kok gak
jabatan tangan?” tanya Vita heran belum sempat aku jawab handphoneku
berbunyi dan Aku segera pamit menuju kamarku dalam hati Aku bersyukur
karena bisa pergi dari tempat itu dan bisa menghindar dari pertanyaan
Vita.
Sesampainya
di kamar setelah selesai telpon-telponan emosiku kembali muncul aku
juga gak tau kenapa setiap melihat cowok itu bawaaanku selalu emosi aku
gak menyangka kalau aku kembali bertemu dengan cowok menyebalkan itu
padahal aku berharap tidak akan bertemu lagi dengan cowok menyebalkan
itu tetapi ternyata doaku ini tidak dikabulkan oleh yang Kuasa, “Sial
kenapa sich aku harus ketemu sama cowok gila itu lagi? Mana dia tau
rumahku lagi sekarang” ucapku kesal pada diriku sendiri.
Satu
jam berlalu dan aku mendengar suara mobil serta motor keluar dari
garasi dan pergi meninggalkan rumahku setelah Aku yakin semua teman vita
sudah pergi aku segera turun ke bawah untuk mengambil minum namun
ternyata lagi – lagi aku bertemu dengan cowok menyebalkan itu karena
ternyata dia masih ada di rumahku. “Kamu kok belum pulang sich?” tanyaku
langsung saat melihat dia masih ada di rumahku, “emangnya kenapa? Kamu
mau ngusir Aku ya?” balas cowok itu jutek. “Hei… hei… kalian ini kenapa
sich dari tadi kok bertengkar terus?” tanya Vita heran saat melihat kami
adu mulut. “ gak ada apa-apa kok” jawab kami bersamaan “ ya udah deh
Vit aku pamit dulu ya” ucap Robi dan segera melangkah pergi. “Oke deh
hati – hati ya Bi” jawab vita tersenyum.
Keesokan
harinya saat Aku baru pulang dari latihan basket hujan turun dengan
derasnya dan sialnya saat hujan deras seperti itu mobilku mogok sehingga
harus masuk bengkel dan Aku harus naik angkutan umum untuk pulang, saat
sedang menunggu angkutan umum “BYURR” datanglah sebuah mobil yang
langsung menerjang genangan air didepanku, sehingga air itu mengenai
tubuhku dan membuat tubuhku semakin basah kuyub dan kotor, setelah itu
mobil itu mundur kembali dan berhenti tepat di depanku dan betapa
kesalnya aku saat tau siapa pengemudi mobil itu, “ ya dugaan kalian
benar dia adalah Robi orang yang saat itu paling Aku benci” melihat
tubuhku yang basah kuyub dan kotor dia tertawa tanpa dosa dan pergi
begitu saja. “ROBI SETAN!” teriakku kesal namun suaraku hilang ditelan
gemuruh hujan yang turun dengan derasnya. Hal itu membuatku semakin
membencinya dan aku benar-benar tidak mengerti mengapa Robi sangat
menyebalkan dan senang sekali membuatku marah.
Semenjak hari itu hubunganKu dan Robi jadi semakin buruk dan kami
selalu bertengkar setiap kali bertemu Aku juga tidak tau kenapa setiap
bertemu dengan Robi ada saja masalah yang terjadi dan membuat Kami adu
mulut bahkan bertengkar. Hal itu sudah diketahui oleh semua orang yang
berada disekitar kami dan mereka semua hanya bisa diam tanpa komentar
begitu juga dengan Adit, Rahma dan Vita yang sudah kehabisan kata untuk
menasehatiku supaya berdamai saja dengan Robi namun baik Aku maupun Robi
tidak mau menuruti nasehat dan perkataan orang – orang itu dan terus
mempertahankan peperangan kami. Hingga suatu hari takdir berkata lain
dan mengubah jalan hidup kami menjadi lebih baik dan membuka lembaran
baru untuk hubunganku dengan Robi.
Pagi
itu keadaan tubuhku sedang tidak fit tetapi aku tetap memaksakan diri
untuk masuk sekolah karena akan diadakan ujian hal itu membuat keluarga
dan teman dekatku yang mengetahui keadaanku cemas, “Sayang Kamu yakin
mau masuk sekolah? Kamu kan
lagi sakit” tanya Mamaku cemas saat melihatku hendak berangkat sekolah,
“udahlah Ma gak usah cemas gitu, Nanda baik – baik aja kok jadi Mama
gak usah khawatir ya” ucapku menenangkan Mama, walau berat Mama terpaksa
menuruti keinginanku itu.
Sesampainya
di sekolah Aku melihat Adit yang baru saja keluar dari parkiran dan
saat melihatku datang Adit kaget dan langsung menegurku “Ya ampun Nan
Kamu kan lagi sakit ngapain sekolah sich?” protes Adit langsung. “Aku mau ikut ujian Dit” jawabku polos. “iya-iya aku tau tapi kan
Kamu bisa nyusul ujiannya” ucap Adit lagi namun begitu melihat ekspresi
wajahku yang memelas Adit langsung menghela nafas dan terpaksa mengalah
“Oke tapi kamu gak boleh jauh – jauh dari Aku ya” pinta Adit “emang
kenapa?” tanyaku heran, “biar aku bisa mantau keadaanMu” jawab Adit
serius “Oke Bos” ucapku tersenyum. sesampainya di kelas Rahma menunjukan
reaksi yang sama seperti Adit tadi tapi melihat kesungguhanku Rahma
luluh juga dan terpaksa mengalah seperti Adit.
Ujianpun
selesai dan Aku merasa keadaanku semakin parah namun Aku tetap bertahan
aku berfikir “ini keputusanku jadi aku gak boleh membuat orang lain
cemas” tapi apa daya keadaanku tidak bisa diajak kompromi saat akan
menuju toilet bersama Rahma Aku merasa mataku berkunang-kunang dan
kemudian semua menjadi gelap yang Aku ingat Cuma suara Rahma yang
berusaha membangunkan aku.
Saat
aku membuka mata aku sudah berada di kamarku yang bernuansa hijau muda
dan disampingku sudah duduk berkeliling Mama, Adit, Rahma dan Vita yang
langsung tersenyum lega ketika melihaku sadar, “Alhamdulillah kamu sudah
sadar Sayang” ucap Mama tersenyum sambil memelukku. “Nanda kenapa Ma?”
tanyaku polos, “tadi kamu pingsan” jawab Mama singkat “untung ada Robi
datang dan langsung membawamu ke UKS “ lanjut Vita “terus Aku langsung
manggil Adit dan Vita deh, terus Adit gendong Kamu ke mobil dan
sampailah Kita di sini” sambar Rahma melanjutkan cerita Vita, saat
mendengar cerita mereka ber dua aku kaget banget karena ternyata orang
yang paling aku benci sudah mau menolongku. “ nah maka dari pada itu
mulai sekarang Kamu baikan aja ya sama Robi dia kan udah mau nolong kamu
hari ini” pinta vita tersenyum namun Aku hanya diam.
Malam
harinya saat Aku sedang merenung di kamar seseorang datang dan betapa
senangnya aku saat tau Adit datang, “Hai Dit” sapaku lemah. “Hai juga,
gimana keadaanmu?” tanya Adit langsung duduk disampingku. “masih lemes
Dit” jawabku pelan, kemudian Adit langsung memerikasa keningku. “Panasmu
masih tinggi” ucap Adit pelan, “Iya, tapi Kamu gak usah cemas aku gak
apa-apa kok” jawabku tersenyum membuat Adit ikutan tersenyum gak lama
kemudian Vita datang, tetapi baru sebentar Vita diam di tempatku Bi Ami
datang “Non Vita ada telpon dari temannya Non” ucap Bibi langsung
memberikan telponnya kepada Vita dan mereka berdua langsung pergi
meninggalkan kamarku.
“ Kamu kenapa Dit?” tanyaku heran saat melihat ekspresi wajah Adit yang beda dari biasanya, “eh.. gak kenapa-kenapa kok Nan,
mending Kamu tidur aja ya biar besok keadaanmu jadi lebih fit” jawab
Adit santai. “gak mau, Kamu kenapa sich Dit kok kayaknya sedih gitu?”
tanyaku heran hal ini membuat Adit tediam sejenak dan menghela nafas
berat sebelum berbicara, “Aku sudah putus sama Vita Nan”
jawab Adit sedih. “Kok bisa?” tanyaku kaget sekaligus heran. “Kami udah
gak cocok Nan makanya Kami mutusin untuk mengakhiri hubungan kami”
jawab Adit sedih, mendengar cerita Adit aku langsung mendadak diam Aku
sendiri tidak tau apa yang seharusnya Aku rasakan, Jujur ada perasaan
senang di hatiku karena Adit sudah putus dari Vita tapi ada juga
perasaan sedih yang menghinggapi hatiku dan aku tidak tahu kenapa aku
bisa merasa seperti itu.
“Hei.. kok Kamu bengong Nan?!”
ucap Adit menyadarkanku dari Lamunan yang mendadak menghampiriku, “e..
gak ada apa-apa kok Dit, Sorry ya kalau pertanyaanku tadi bikin kamu
sedih” jawabku pelan Karena merasa tidak enak hati. “apaan sich Nan Kamu
gak ada salah apa-apa kok jadi buat apa minta maaf” ucap Adit
tersenyum. “Oke sekarang malam udah makin larut nich Kamu istirahat ya Nan” pinta Adit lembut sambil merapikan selimutku. “Oke deh Dit aku istirahat dulu” jawabku tersenyum.
“Adit”
ucapku menghentikan langkah Adit yang akan keluar kamar, “ ada apa
Nan?” tanya Adit setelah berbalik dan menghampiriku “Kamu yang sabar aja
ya Dit, Aku yakin Kamu bakalan dapet cewek yang mungkin jauh lebih baik
dari Vita kok” ucapku tersenyum “Thanks ya Nan untuk doannya Aku harap
itu juga berlaku buat kamu ya!” balas Adit tersenyum, “Amin” jawabku
singkat. “ya udah istirahat deh Nan Aku juga mau langsung pulang nich!”
pamit Adit padaku “oke deh titi dj ya” jawabku singkat, “Thanks Kamu
juga cepat sembuh ya” ucap Adit membelai kepalaku “Thanks” jawabku
singkat, Aditpun segera meninggalkan kamarku dan aku langsung memejamkan
mataku, setelah Aku mendengar suara mobil Adit yang pergi menjauh.
Keesokan
harinya aku terpaksa tidak masuk sekolah karena keluarga dan teman –
temanku tidak mau kejadian kemarin terulang kembali, saat sedang duduk
termenung handphoneku berbunyi dan itu adalah telpon dari Rahma yang
menayakan keadaanku dan dia bilang pulang sekolah mau datang
menjenggukku. “Tok..Tok..” terdengar suara ketukan pintu “ Ya masuk”
jawabku singkat setelah pintu terbuka berdirilah Rahma dan Vita yang
langsung menghampiri ranjangku. “gimana keadaanmu Nan?”
tanya Rahma langsung setelah meletakan parcel buah yang dibawanya di
meja samping tempat tidurku. “Udah agak mendingan Ma, Thanks ya dah mau
jengguk Aku” ucapku pelan “Yoi deh Nan
sama-sama” jawab Rahma tersenyum. “oya Adit bilang entar sore dia datang
jenguk kamu, soalnya sekarang ini dia lagi ada urusan sih!” ucap Rahma
sebelum Aku bertanya. “O..gt” jawabku singkat.
“Eh Nan tadi si Robi nanyain kamu lho” jawab Vita tersenyum usil. “Yups bener tuh Nan
maunya sich tadi kita ngajakin dia kesini Cuma dianya gak mau tuh” ucap
Rahma melanjutkan cerita Vita. “apaan sich kalian ini, kalian sendiri kan
tau gimana buruknya hubunganku sama dia jadi ngapain juga dia datang
kesini nyari masalah aja” ucapku sewot “Yee.. kamu jangan gitu donk Nan,
Kamu lupa kalau kemarin Robi yang sudah gendong kamu ke UKS” ucap Vita
mengingatkanku untuk Jasa Robi kemarin. “iya sich tapi Aku yakin semua
cowok yang ngelihat cewek pingsan di depannya dan dia kenal sama cewek
itu pasti bakalan di tolong kok” jawabku cuek. “iya sich tapi kan
kalian musuhan kok dia mau sich nolong musuhnya?” tanya Rahma polos.
“Aduch udah deh jangan ngomongin cowok itu lagi bikin moodku jadi jelek
aja sich” protesku yang langsung diturutin oleh Rahma dan Vita.
Sore
harinya saat Rahma sudah pulang Vita masih menemaniku dan saat Vita
sedang melihat – lihat obatku yang ada di meja Aku teringat kata – kata
Adit semalem dan akupun langsung menayakan masalah itu “Ta Kamu udah
putus sama Adit ya?” tanyaku tanpa basa – basi membuat Vita kaget dan
langsung menghentikan kegiatannya meneliti obat, “Kamu tau dari Adit
ya?” tanya Vita balik, Aku mengganguk “sejak kapan kalian putus dan
karena apa kalian putus?” tanyaku lagi, “kami udah putus sekitar
seminggu yang lalu Nan dan Kami putus karena udah gak cocok” jawab Vita
sambil menghela nafas berat dan wajahnya terlihat sedih. “Sorry Ya Ta
kalau aku buat Kamu sedih” jawabku pelan dengan perasaan bersalah.
“udahlah Nan Kamu gak perlu minta maaf aku gak kenapa-kenapa kok,
mending sekarang Kamu istirahat ya” ucap Vita terseyum.
Dua
hari berlalu hari ini keadaanku sudah membaik sehingga aku bisa kembali
masuk sekolah dan saat menunggu Adit memarkirkan mobilnya Robi datang
tapi Aku segera membuang muka dan pura-pura tidak melihatnya “kayaknya
Kamu udah sembuh ya, syukur deh kalau gitu” ucap Robi tersenyum dan
langsung melangkah pergi hal ini membuatku kaget sekaligus heran,
“tumben tuh orang bisa kalem? Pakai senyum segala lagi” ucapku dalam
hati, “Hei Nan Kamu kenapa? Kok tampangMu aneh gitu?” tanya Adit heran.
“eh.. gak ada apa – apa kok Dit udah yuk ke kelas” ucapku pada Adit dan
langsung diturutin Adit.
Semenjak
hari itu sikap Robi berubah dia tidak lagi mengajakku bertengkar setiap
kali Kami bertemu bahkan dia selalu tersenyum manis setiap kali kami
berpapasan membuatku makin bingung, tetapi Aku berusaha mencari tau
alasan dari perubahan sikap Robi itu. suatu hari saat aku hendak menuju
kelas Aku melihat Robi keluar dari kelasnya dan entah mengapa pikiran
usil segera muncul di otakku dan Aku sengaja menabrak Robi namun reaksi
Robi tidak seperti biasanya, dia tidak mengomel melainkan tersenyum dan
pergi meninggalkan aku begitu saja tentu saja hal itu membuatku merasa
bingung sekaligus aneh.
Keesokan
harinya saat aku sedang berjalan sambil membaca sms aku kembali
bertabrakan dengan Robi dan aku tidak menyia – nyiakan waktu itu untuk
mengomelinya, “Hei jalan pakai mata donk jangan pakai kaki aja sakit
tau” ucapku pura – pura marah namun lagi – lagi reaksi yang ditunjukan
Robi di luar dugaanku kerena dia masih saja tidak membalas omelanku
“Sorry Nan aku gak sengaja” ucap Robi pelan dan langsung membantuku
bangun tetapi bantuan itu aku tolak.
Sesampainya
di kelas aku jadi termenung mengingat peristiwa aneh yang terjadi
antara diriku dan Robi akhir – akhir ini hal itu membuat Adit yang
sedang bermain hp heran “Kamu kenapa Nan,
Kok bengong?” tanya Adit heran, “Aku lagi bingung nih Dit” jawabku
seenaknya, “bingung kenapa?” sambar Rahma yang baru datang. hal ini
membuat Adit melotot pada Rahma karena lagi-lagi dialognya diambil
Rahma. “Aku ngerasa Sikap Robi berubah” ucapku polos “berubah gimana?”
tanya Rahma langsung, belum sempat aku jawab bel masuk sudah berbunyi
dan Guru Bahasaku sudah datang membuat obrolan Kami tentang Robi
berakhir sampai disitu.
Bel
Pulang sekolahpun berbunyi saat Aku sedang berjalan bersama Adit, Rahma
dan Vita menuju parkiran Robi datang dan seperti biasa dia selalu
tersenyum jika berpapasan denganku hal itu membuat Adit, Vita dan Rahma
Surprize sekaligus heran. “Tumben Robi senyum ketemu Kamu Nan?” tanya
Rahma heran, “iya tumben” ucap Adit mendukung perkataan Rahma. “Lho
bukannya bagus ya kalau Robi bersikap gitu, itu tandanya dia udah
insyaf?” ucap Vita datar, “Maksudnya?” tanyaku heran “ya iyalah itu
berarti udah gak ada lagi yang berantem sama Nanda setiap kali ketemu”
ucap Vita sok bijak. “iya sich tapi sejak kapan dia jadi gitu sama kamu
Nan?” tanya Rahma penasaran. “ Gak
inget, yang jelas sekarang Dia udah gak pernah ngajak Aku berantem lagi
setiap kali Kami ketemu” jawabku datar sambil menerawang membuat Adit,
Vita dan Rahma saling berpandangan bingung.
Hingga
suatu hari aku tau alasan dari semua perubahan sikap Robi padaku, Saat
itu aku sedang menjenguk temanku di rumah sakit dan ketika melewati
sebuah kamar aku mendengar suara orang yang sedang menangis awalnya aku
tidak memperdulikan suara itu namun saat mendengar namaku disebut
langkahku langsung terhenti dan aku segera melangkah ke depan kamar itu
dari kaca pintu aku melihat Robi terbaring lemah di ranjang putih itu
sedangkan seorang wanita duduk disebelahnya, aku melihat wanita itu
memandang Robi dengan pandangan cemas dan sedih. Tanpa sadar aku membuka
pintu kamar itu, “ Nanda!!” ucap Robi kaget saat melihat aku datang.
Saat
itulah aku tau kalau umur Robi tinggal sebentar lagi awalnya Robi
bersikeras untuk tidak memberitahukan hal itu kepadakau tapi atas
desakan dan bujukan wanita yang menungguinya Robi mau menceritakan
semuanya kepadaku termasuk perasaan dia ke aku selama ini. “ Ananda
Maafin aku ya kalau selama ini aku selalu aja buat kamu kesel, emosi dan
marah. sebenarnya aku juga gak mau bersikap gitu ke kamu dan pingin
bisa bersikap biasa aja sama kamu supaya kamu tau kalau sebenarnya Aku
tuh sayang banget sama kamu dan pingin banget bisa jadi pacarmu. Tapi
apa daya takdir yang tidak mengijinkanku untuk bersamamu” ujar Robi
dengan wajah sedih.
“Udah
dua tahun ini aku menderita kangker otak dan dokter bilang hidupku udah
gak lama lagi makanya aku selalu berusaha untuk tidak terlalu dekat
dengan orang lain, supaya aku tidak merasa berat saat harus meninggalkan
dunia ini. Dan mereka semua tidak merasa terlalu kehilangan saat Tuhan
memanggilku. Tetapi disaat waktu hidupku tinggal sebentar lagi aku malah
bertemu denganmu” ujar Robbi berusaha tegar sambil memandangku sekilas.
Menarik nafas sejenak dan melanjutkan perkataannya. “dan entah sejak
kapan aku menyukaimu bahkan menyayangimu. Tapi perlu kamu tau :
Cintaku
padamu bagaikan mentari yang akan selalu menyinari hidupmu sepanjang
hari. Walau jarak dan waktu memisahkan kita, cintaku tetap hanyalah
untukmu”.
Dua
bulan berlalu Robbi benar – benar membuktikan ucapannyan dia pergi
selama – lamanya akibat penyakit kangker yang dideritanya, walau aku
masih menyimpan rasa kesal padanya tapi aku tidak bisa memungkiri diri
sendiri bahwa saat Robi pergi Aku merasa ada yang hilang dari hidupku
bahkan ada rasa bersalah akan sikapku selama ini ke dia tapi aku harap
dia tenang dialam sana. Sekarang aku bersyukur karena setelah bersabar
dan menunggu sekian lama aku berhasil mendapatkan hati Adit cowok yang
selama ini aku sayang.
Minggu, 14 Juli 2013
Rindu, Di Bawah Pohon.
Semua terlihat jelas disini
Dia menatap lekat-lekat pohon besar didepannya. Tak berubah. Masih sama seperti 7 tahun lalu. Mungkin usianya puluhan, ratusan atau bahkan ribuan tahun.
“sudah tua, semakin kokoh yaa” lelaki itu berbisik sambil mengelus badan pohon yang nampak usang termakan oleh usia.
Goresan-goresan di punggung pohon nampak jelas menjadi kenangan di tubuhnya, menyimpan jutaan memori yang takkan pernah hilang. Ranting-ranting pohon yang semakin tua dan membesar seolah menunggu dan terus menanti orang-orang yang pernah bermain diatasnya. Kembali
Kamu kembali, disaat aku tak pernah menunggumu lagi.
***
7 tahun lalu
Beberapa pasang mata tengah asik bermain dibawah pohon akasia. Ayunan dan beberapa perosotan menjadi wahana yang menarik bagi beberapa anak kecil yang bermain diatasnya, mungkin bak kora-kora atau alap-alap bagi mereka. Saung-saung yang sengaja dibuat sebagai penghias taman itu juga menjadi tempat yang menarik bagi beberapa remaja yang baru pulang sekolah untuk sekedar melepas penat ataupun mengerjakan tugas diatas sana. Beberapa gerobak jualan juga menghiasi pemandangan ditempat ini, menjadikannya sebagai objek wisata dadakan siang hari.
Aku masih asik memandangi langit yang saat itu mendung, hembusan angin berkali memeluk dan melepaskanku bergantian. Aku masih duduk diatas sepeda . Beberapa temanku sudah lebih dulu mencari tempat disalah satu saung yang tersedia disana sambil membawa plastik-plastik berisi camilan yang kami beli seusai pulang sekolah tadi. Aku menatap lekat anak-anak kecil yang tengah disuapi makan oleh ibunya, sebelum akhirnya aku melemparkan pandanganku ke beberapa rombongan perempuan yang baru saja sampai ditaman ini. Salah satu dari mereka terlihat begitu berhacaya dimataku. Indah. Rambutnya bergelombang, menjadi tempat asik bagi semilir angin untuk bermain-main disekitarnya. Berjalan sambil tersenyum kearah tempat temanku singgah tanpa sadar sejak tadi aku memperhatikannya, melukisnya, mengabadikannya didalam benakku.
“boleh kita duduk disini? mau ngerjain tugas.”
“boleh kok”
***
Saat itu. aku menatapnya dalam, beberapa kali mencuri pandang. Dia sempurna, wajahnya bersih, bahkan debu pun enggan untuk hinggap diwajahnya. Agak sedikit jauh dari teman-temannya, mungkin ingin menyendiri, memandangi beberapa pasang mata manusia yang ada disini. Sesekali senyumannya menghiasi wajahnya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya, angin membawanya ketelingaku, membisikkanku, aku bisa mendengar hembusannya. Tak jarang ia membalikkan badannya yang membelakangiku dan mencoba menatapku namun membuang kembali wajahnya, menghamparkannya jauh, aku bisa merasakan itu. Mungkin dia memikirkanku. Mencoba untuk memikirkan beberapa patah kata untuk sekedar membuka beberapa percakapan kecil denganku. Aku tersenyum
***
Kita selalu kembali, setiap detik, menit, jam, hari. Selalu kita habiskan disini. Untuk sekedar menyeruput teh yang sengaja kau bawa dari rumah sembari menghabiskan camilan yang kita beli sebelum beranjak kesini. Menunggu senja tiba, menemani matahari hingga kembali keranjangnya. Menatap langit sore. Melihat burung-burung gereja bermain diatas taman mencoba untuk mendekati manusia dan kemudian terbang lagi karena dikejar-kejar anak kecil. Mendengarkan suara jangkrik yang masih malu-malu ditengah-tengah jeritan kelelawar yang baru bangun dari tidur panjangnya.
Masih disini, kita memulai rindu dan menciptakan rindu disini. Menunggu malam panjang, menyambut pagi hingga akhirnya sore mempertemukan kita. Dibawah pohon ini, masih selalu disini.
Sesekali tertawa saat mencoba mengucapkan janji-janji yang saat itu kupikir tak mungkin terjadi. Menuliskan beberapa bait puisi tentang aku, kamu, bahkan senja. Banyak hal yang kita lalui dibawah pohon ini, mungkin semua itu hanya abadi didalam pikiranku, abadi menjadi sebuah cerita utuh dibenakku. Menjadi cerita yang setiap malam kubayangkan, kubacakan bak dongeng sebelum tidur.
Malam itu, tertiba kamu mengajakku kesini, dibawah pohon ini. Kamu mengucapkan rindu, memberikan pelukan rindu masih bisa kurasakan hingga kini. Kamu pergi, 7 tahun kemudian kamu akan kembali, ketempat ini, tempat dimana aku berdiri, menatap lekat pohon tua yang ada didepanku, mengurai semua kenangan yang telah kita ukir. Aku kembali saat ini, menunggumu hanya untuk melepaskan rindu, ribuan, atau bahkan jutaan rindu yang ingin kutumpahkan dipelukanmu.
“sayang” seorang perempuan berusia kurang lebih 16 tahun berlari meniupkan gelembung-gelembung sabun ketempat kekasihnya, dibawah pohon yang berjarak 500 meter.
“kamu ngapain disitu sendirian?” tanya anak itu polos, kekasihnya mencoba tersenyum kearahnya.
“ga ngapa-ngapain kok. Cuma nyari yang hilang”
“apa ?”
“bukan apa-apa. yuuk ke sana, kasian yang lain dari tadi nunggu lama.”
Aku berjalan meninggalkan pohon itu, meningga lkan kenangan, bahkan melupakannya untuk selamanya. Kamu mungkin tak akan pernah kembali, tak seperti janji yang kamu ucapkan malam 7 tahun lalu itu. Menyayunkan tangan yang digenggam erat oleh anak kekasihku, menyambut senja, senja yang menyimpan jutaan rindu. Disini.
***
Aku masih disini, menatap lekat lelaki itu dan seorang perempuan yang sepertinya kekasihnya, entahlah. Aku masih menyimpan janjiku, erat didalam hati, tak ada yang bisa mencurinya, menghilangkannya dari dalam sini. Aku selalu disini, sebelum hari ini. bahkan setahun sebelum sampai saatnya hari ini tiba. Aku selalu memandang senja, mengingat rindu, selalu bertemankan suara canda dari beberapa kelelawar yang bangun dari tidurnya untuk menikmati senja yang indah, menari diudara bersama pasangannya. Saling membalas kicau yang terdengar seperti nyanyian rindu bagiku.
Senja menyimpan banyak cerita, aku selalu menghabiskannya disini. Setiap hari, setahun. Masih untuk hal yang sama. Menunggu kamu. Tapi kamu yang tak pernah kembali, kamu yang melupakan janjiku, janji kita. Semua tenggelam bersama matahari yang kembali keranjangnya. Tak pernah kembali.
Sejenak ingin meneteskan air mata. Tapi kurasa itu sia-sia, aku yang harus melupakanmu, aku yang harus melupakan semua kenangan yang selama ini kuulangi setiap malam, menjadikannya dongeng sebelum tidur untukku, cerita indah yang selalu kubacakan sebelum aku menutup mataku, sebelum akhirnya cerita itu muncul didalam mimpiku, abadi setiap malam. Tak pernah seharipun aku melewati cerita itu.
Lelaki itu menghilang seiiring matahari yang sedaritadi pulang keranjangnya, senyuman terakhir yang kulihat ketika menatap seorang wanita yang pasti kekasihnya itu, begitu menyayat hatiku, menghapus semua rindu, terurai bersama air mata yang jatuh. Tempat mereka berdiri sebelum akhirnya pergi menjadi tempat bermain yang indah buat para kunang-kunang. Aku masih duduk diatas sini. Diatas pohon besar yang menyimpan sejuta rindu.
***
Dia menatap lekat-lekat pohon besar didepannya. Tak berubah. Masih sama seperti 7 tahun lalu. Mungkin usianya puluhan, ratusan atau bahkan ribuan tahun.
“sudah tua, semakin kokoh yaa” lelaki itu berbisik sambil mengelus badan pohon yang nampak usang termakan oleh usia.
Goresan-goresan di punggung pohon nampak jelas menjadi kenangan di tubuhnya, menyimpan jutaan memori yang takkan pernah hilang. Ranting-ranting pohon yang semakin tua dan membesar seolah menunggu dan terus menanti orang-orang yang pernah bermain diatasnya. Kembali
Kamu kembali, disaat aku tak pernah menunggumu lagi.
***
7 tahun lalu
Beberapa pasang mata tengah asik bermain dibawah pohon akasia. Ayunan dan beberapa perosotan menjadi wahana yang menarik bagi beberapa anak kecil yang bermain diatasnya, mungkin bak kora-kora atau alap-alap bagi mereka. Saung-saung yang sengaja dibuat sebagai penghias taman itu juga menjadi tempat yang menarik bagi beberapa remaja yang baru pulang sekolah untuk sekedar melepas penat ataupun mengerjakan tugas diatas sana. Beberapa gerobak jualan juga menghiasi pemandangan ditempat ini, menjadikannya sebagai objek wisata dadakan siang hari.
Aku masih asik memandangi langit yang saat itu mendung, hembusan angin berkali memeluk dan melepaskanku bergantian. Aku masih duduk diatas sepeda . Beberapa temanku sudah lebih dulu mencari tempat disalah satu saung yang tersedia disana sambil membawa plastik-plastik berisi camilan yang kami beli seusai pulang sekolah tadi. Aku menatap lekat anak-anak kecil yang tengah disuapi makan oleh ibunya, sebelum akhirnya aku melemparkan pandanganku ke beberapa rombongan perempuan yang baru saja sampai ditaman ini. Salah satu dari mereka terlihat begitu berhacaya dimataku. Indah. Rambutnya bergelombang, menjadi tempat asik bagi semilir angin untuk bermain-main disekitarnya. Berjalan sambil tersenyum kearah tempat temanku singgah tanpa sadar sejak tadi aku memperhatikannya, melukisnya, mengabadikannya didalam benakku.
“boleh kita duduk disini? mau ngerjain tugas.”
“boleh kok”
***
Saat itu. aku menatapnya dalam, beberapa kali mencuri pandang. Dia sempurna, wajahnya bersih, bahkan debu pun enggan untuk hinggap diwajahnya. Agak sedikit jauh dari teman-temannya, mungkin ingin menyendiri, memandangi beberapa pasang mata manusia yang ada disini. Sesekali senyumannya menghiasi wajahnya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya, angin membawanya ketelingaku, membisikkanku, aku bisa mendengar hembusannya. Tak jarang ia membalikkan badannya yang membelakangiku dan mencoba menatapku namun membuang kembali wajahnya, menghamparkannya jauh, aku bisa merasakan itu. Mungkin dia memikirkanku. Mencoba untuk memikirkan beberapa patah kata untuk sekedar membuka beberapa percakapan kecil denganku. Aku tersenyum
***
Kita selalu kembali, setiap detik, menit, jam, hari. Selalu kita habiskan disini. Untuk sekedar menyeruput teh yang sengaja kau bawa dari rumah sembari menghabiskan camilan yang kita beli sebelum beranjak kesini. Menunggu senja tiba, menemani matahari hingga kembali keranjangnya. Menatap langit sore. Melihat burung-burung gereja bermain diatas taman mencoba untuk mendekati manusia dan kemudian terbang lagi karena dikejar-kejar anak kecil. Mendengarkan suara jangkrik yang masih malu-malu ditengah-tengah jeritan kelelawar yang baru bangun dari tidur panjangnya.
Masih disini, kita memulai rindu dan menciptakan rindu disini. Menunggu malam panjang, menyambut pagi hingga akhirnya sore mempertemukan kita. Dibawah pohon ini, masih selalu disini.
Sesekali tertawa saat mencoba mengucapkan janji-janji yang saat itu kupikir tak mungkin terjadi. Menuliskan beberapa bait puisi tentang aku, kamu, bahkan senja. Banyak hal yang kita lalui dibawah pohon ini, mungkin semua itu hanya abadi didalam pikiranku, abadi menjadi sebuah cerita utuh dibenakku. Menjadi cerita yang setiap malam kubayangkan, kubacakan bak dongeng sebelum tidur.
Malam itu, tertiba kamu mengajakku kesini, dibawah pohon ini. Kamu mengucapkan rindu, memberikan pelukan rindu masih bisa kurasakan hingga kini. Kamu pergi, 7 tahun kemudian kamu akan kembali, ketempat ini, tempat dimana aku berdiri, menatap lekat pohon tua yang ada didepanku, mengurai semua kenangan yang telah kita ukir. Aku kembali saat ini, menunggumu hanya untuk melepaskan rindu, ribuan, atau bahkan jutaan rindu yang ingin kutumpahkan dipelukanmu.
“sayang” seorang perempuan berusia kurang lebih 16 tahun berlari meniupkan gelembung-gelembung sabun ketempat kekasihnya, dibawah pohon yang berjarak 500 meter.
“kamu ngapain disitu sendirian?” tanya anak itu polos, kekasihnya mencoba tersenyum kearahnya.
“ga ngapa-ngapain kok. Cuma nyari yang hilang”
“apa ?”
“bukan apa-apa. yuuk ke sana, kasian yang lain dari tadi nunggu lama.”
Aku berjalan meninggalkan pohon itu, meningga lkan kenangan, bahkan melupakannya untuk selamanya. Kamu mungkin tak akan pernah kembali, tak seperti janji yang kamu ucapkan malam 7 tahun lalu itu. Menyayunkan tangan yang digenggam erat oleh anak kekasihku, menyambut senja, senja yang menyimpan jutaan rindu. Disini.
***
Aku masih disini, menatap lekat lelaki itu dan seorang perempuan yang sepertinya kekasihnya, entahlah. Aku masih menyimpan janjiku, erat didalam hati, tak ada yang bisa mencurinya, menghilangkannya dari dalam sini. Aku selalu disini, sebelum hari ini. bahkan setahun sebelum sampai saatnya hari ini tiba. Aku selalu memandang senja, mengingat rindu, selalu bertemankan suara canda dari beberapa kelelawar yang bangun dari tidurnya untuk menikmati senja yang indah, menari diudara bersama pasangannya. Saling membalas kicau yang terdengar seperti nyanyian rindu bagiku.
Senja menyimpan banyak cerita, aku selalu menghabiskannya disini. Setiap hari, setahun. Masih untuk hal yang sama. Menunggu kamu. Tapi kamu yang tak pernah kembali, kamu yang melupakan janjiku, janji kita. Semua tenggelam bersama matahari yang kembali keranjangnya. Tak pernah kembali.
Sejenak ingin meneteskan air mata. Tapi kurasa itu sia-sia, aku yang harus melupakanmu, aku yang harus melupakan semua kenangan yang selama ini kuulangi setiap malam, menjadikannya dongeng sebelum tidur untukku, cerita indah yang selalu kubacakan sebelum aku menutup mataku, sebelum akhirnya cerita itu muncul didalam mimpiku, abadi setiap malam. Tak pernah seharipun aku melewati cerita itu.
Lelaki itu menghilang seiiring matahari yang sedaritadi pulang keranjangnya, senyuman terakhir yang kulihat ketika menatap seorang wanita yang pasti kekasihnya itu, begitu menyayat hatiku, menghapus semua rindu, terurai bersama air mata yang jatuh. Tempat mereka berdiri sebelum akhirnya pergi menjadi tempat bermain yang indah buat para kunang-kunang. Aku masih duduk diatas sini. Diatas pohon besar yang menyimpan sejuta rindu.
***
this is for you: Teman rinduku slama ini Abi Saputro
Kamis, 06 Juni 2013
Sikap mu
Kamu itu adalah makhluk yg sangat misterius. Dari awal aku mengenalmu hingga saat ini, atau detik ini juga disaat aku sedang menulis tentang kamu ( Lagi ) .
Kamu membuat aku penasaran dengan kisah - kisah yang kamu ceritakan sedikt demi sedikit, yang kau mainkan alurnya. Disaat aku bertanya, kamu mengganti topik pembicaraannya. Disaat aku mulai menikmati topik barumu, kamu menggantinya lagi. benar - benar membuatku penasaran , dari topik yang pertama, yang kedua hingga topik yang kau ceritakan hingga saat ini.
Tak habis fikir, sebenarnya apa maksud dari itu semua? . membuatku poenasaran? SUDAH . Membuatku mencari kelajutan dan akhir dari topikmu sendir? SUDAH . Membuatku selalu bertanya kepadamu? SUDAH. Atau kamu memang sengaja membuat aku penasaran tentangmu?? apa itu jawaban dari semuannya?
Dan yang tidak habis fikir lagi, kamu membicarakan dia. yaa dia yang selalu dan akan ada di dalam otakmu, aku gerah, aku panas, aku marah mendengar tentang dia lagi, dia lagi. membicarakan dia dihadapanku, orang yang selama ini menyanyangimu setulus hati, orang yang selama ini rela mendengarkan keluh kesahmu, orang yang selama ini selalu menyemangatimu, orang yang selalu membelamu disaat yang lain menghujatmu, orang yang selalu ada dan akan ada disaat kamu butuh atau tidak, iya itu aku bukan dia.
Marah? percuma... bener kata dari sebuah kalimat " Marah bukanlah solusi dari sebuah masalah" dan hari ini aku benar - benar dilanda kemarahan. Kemarahan yang coba untuk aku ingkari, CEMBURU kita menyebutnya. Hati selalu menolak rasa ini tapi ternyata gejolaknya sanagat kuat, hinggaku tak bisa menahannya. Pasti tidak ada yang salah dengan rasa ini, tapi ini kecemburuan yang pertama dan jika berlanjut, akankah bisa memastikan kalau ini benar - benar cinta, bukan hanya sekedar sayang?
Ya Tuhan, bahkan aku bukan siapa - siapa tapi aku sudah cemburu kepadannya, apakah rasa ini benar ya tuhan? apakah rasa ini yang engkau inginkan ya tuhan? jika memang benar, pertahankan dan berilah yang terbaik untukku.
Kamu membuat aku penasaran dengan kisah - kisah yang kamu ceritakan sedikt demi sedikit, yang kau mainkan alurnya. Disaat aku bertanya, kamu mengganti topik pembicaraannya. Disaat aku mulai menikmati topik barumu, kamu menggantinya lagi. benar - benar membuatku penasaran , dari topik yang pertama, yang kedua hingga topik yang kau ceritakan hingga saat ini.
Tak habis fikir, sebenarnya apa maksud dari itu semua? . membuatku poenasaran? SUDAH . Membuatku mencari kelajutan dan akhir dari topikmu sendir? SUDAH . Membuatku selalu bertanya kepadamu? SUDAH. Atau kamu memang sengaja membuat aku penasaran tentangmu?? apa itu jawaban dari semuannya?
Dan yang tidak habis fikir lagi, kamu membicarakan dia. yaa dia yang selalu dan akan ada di dalam otakmu, aku gerah, aku panas, aku marah mendengar tentang dia lagi, dia lagi. membicarakan dia dihadapanku, orang yang selama ini menyanyangimu setulus hati, orang yang selama ini rela mendengarkan keluh kesahmu, orang yang selama ini selalu menyemangatimu, orang yang selalu membelamu disaat yang lain menghujatmu, orang yang selalu ada dan akan ada disaat kamu butuh atau tidak, iya itu aku bukan dia.
Marah? percuma... bener kata dari sebuah kalimat " Marah bukanlah solusi dari sebuah masalah" dan hari ini aku benar - benar dilanda kemarahan. Kemarahan yang coba untuk aku ingkari, CEMBURU kita menyebutnya. Hati selalu menolak rasa ini tapi ternyata gejolaknya sanagat kuat, hinggaku tak bisa menahannya. Pasti tidak ada yang salah dengan rasa ini, tapi ini kecemburuan yang pertama dan jika berlanjut, akankah bisa memastikan kalau ini benar - benar cinta, bukan hanya sekedar sayang?
Ya Tuhan, bahkan aku bukan siapa - siapa tapi aku sudah cemburu kepadannya, apakah rasa ini benar ya tuhan? apakah rasa ini yang engkau inginkan ya tuhan? jika memang benar, pertahankan dan berilah yang terbaik untukku.
Rabu, 29 Mei 2013
Lagi - Lagi Tentang Kamu
Aku tidak pernah tahu jika kamu tiba-tiba memenuhi sudut-sudut terpencil di otakku,
hingga memenuhi relung-relung hatiku.
aku melihatmu, mengenalmu dan pada akhirnya aku mencintaimu
kamu menjadi penyebab semangatku,
kamu menjelma menjadi senyum yang tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata.
ya.... Ku akui aku jatuh cinta.
kamu ? entahlah
Semua kulakukan diam-diam, begitu rapih, hingga hatimu yang beku tak pernah cair.
semua ku sembunyikan , hingga perasaanmu yang tidak pernah peka tetap saja tidak peduli pada gerak gerikku yang jarang tertangkap sorot matamu.
aku pandai menyembunyikan banyak hal hingga kau tak memahami yang sebenarnya terjadi.
Kamu sangat sulit ditebak, kamu teka-teki yang mempunyai banyak jawaban, juga banyak tafsiran.
aku takut menerjemahkan isyarat-isyarat yang kau tunjukkan padaku.
aku takut mempercayai perhatian sederhanamu yang kau perlihatkan secara terselubung.
aku takut. Aku takut......
takut semakin takut jika perasaan ini bertumbuh kearah yang takku inginkan.
Aku tak percaya, ternyata kita bisa melangkah sejauh ini dan selama ini juga.
aku tak pernah berani mengatakan satu hal yang mungkin mengagetkanmu
hingga memenuhi relung-relung hatiku.
aku melihatmu, mengenalmu dan pada akhirnya aku mencintaimu
kamu menjadi penyebab semangatku,
kamu menjelma menjadi senyum yang tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata.
ya.... Ku akui aku jatuh cinta.
kamu ? entahlah
Semua kulakukan diam-diam, begitu rapih, hingga hatimu yang beku tak pernah cair.
semua ku sembunyikan , hingga perasaanmu yang tidak pernah peka tetap saja tidak peduli pada gerak gerikku yang jarang tertangkap sorot matamu.
aku pandai menyembunyikan banyak hal hingga kau tak memahami yang sebenarnya terjadi.
Kamu sangat sulit ditebak, kamu teka-teki yang mempunyai banyak jawaban, juga banyak tafsiran.
aku takut menerjemahkan isyarat-isyarat yang kau tunjukkan padaku.
aku takut mempercayai perhatian sederhanamu yang kau perlihatkan secara terselubung.
aku takut. Aku takut......
takut semakin takut jika perasaan ini bertumbuh kearah yang takku inginkan.
Aku tak percaya, ternyata kita bisa melangkah sejauh ini dan selama ini juga.
aku tak pernah berani mengatakan satu hal yang mungkin mengagetkanmu
" Aku mulai menyukaimu "
tapi aku mohon tenang,
aku tahu yang kau inginkan, aku tahu yang sangat kau idam-idamkan , aku tahu yang membuatmu bahagia, dan aku tahu itu semua bukan aku, tapi dia.
aku janji, aku janji dan aku janji
bahwa kebahagianmu lebih penting, dan lebih berharga dibandingkan kebahagiaanku.
karna rasa sayang ini, tak ingin melihatnya bersedih.
Diantara rasa bimbang yang tak pernah menemui ujungnya,
dan diantara rasa sayang yang begitu besarnya.
Kamis, 23 Mei 2013
KAMU
Kamu, empat huuruf yang membuatku bingung hingga saat ini.
Kamu, empat huruf yang sangat berarti bagiku.
Kamu, empat huruf yang sangat ku sayangi.
Kamu, empat huruf yang tidak pernah aku lupakan se-detikpun.
dan kamu, empat huruf yang memenuhi ruang kosong dihati ini.
Kamu membuang muka saat kau sadar aku memperhatikanmu .
Kamu acuhkanku disaat kau berkumpul dengan teman - temanmu.
Kamu menjauhiku disaat aku mulai mencintaimu.
Andai, aku berani untuk menulis dengan jelas dan benar namamu di hati ini.
dan andai, aku berani untuk mengatakan ini semua " entah apa yang aku rasakan, tapi sungguh aku ingin menjadi oprang terpenting dihidupmu untuk saat ini dan seterusnya " tapi itu semua mustahil.
itu semua tidak akan pernah aku bisa katakan.
karna kamu hanya mencintai dia.
dan karna dialah kamu bahagia.
Berat, benar - benar berat untuk aku meng-ikhlaskan kamu.
sulit, dan entahlah aku harus seperti apa di keadaan sekarang?
yang jelas aku tidak mau terjebak dalam lingkaran cintamu dan cintanya.
tapi sayangnya aku sudah berada di garis lingkaran tersebut.
tinggal memilih saja .
apakah aku harus maju 1 langkah atau mundur 2 langkah kebelakang?
Itu saja.
Kamu, empat huruf yang sangat berarti bagiku.
Kamu, empat huruf yang sangat ku sayangi.
Kamu, empat huruf yang tidak pernah aku lupakan se-detikpun.
dan kamu, empat huruf yang memenuhi ruang kosong dihati ini.
Kamu membuang muka saat kau sadar aku memperhatikanmu .
Kamu acuhkanku disaat kau berkumpul dengan teman - temanmu.
Kamu menjauhiku disaat aku mulai mencintaimu.
Andai, aku berani untuk menulis dengan jelas dan benar namamu di hati ini.
dan andai, aku berani untuk mengatakan ini semua " entah apa yang aku rasakan, tapi sungguh aku ingin menjadi oprang terpenting dihidupmu untuk saat ini dan seterusnya " tapi itu semua mustahil.
itu semua tidak akan pernah aku bisa katakan.
karna kamu hanya mencintai dia.
dan karna dialah kamu bahagia.
Berat, benar - benar berat untuk aku meng-ikhlaskan kamu.
sulit, dan entahlah aku harus seperti apa di keadaan sekarang?
yang jelas aku tidak mau terjebak dalam lingkaran cintamu dan cintanya.
tapi sayangnya aku sudah berada di garis lingkaran tersebut.
tinggal memilih saja .
apakah aku harus maju 1 langkah atau mundur 2 langkah kebelakang?
Itu saja.
Un Title ( Lagi )
Terlalu banyak kenangan diantara kita, yg sulit untuk aku lupakan.
terlalu banyak kata - kata indah diantara kita.
terlalu banyak khayalan yg kita ceritakan.
terlalu banyak kisah kita yg belum sempat aku ceritakan kembali.
terlalu banya suka duka yg kita lalui,
sudah 4 bulan kita saling berbagi.
banyak cerita tentang kita.
banyak hal - hal konyol yg kita ciptakan.
tapi, dengan mudahnya kamu melupakan semua ini.
kamu pergi dengannya,dan lupakan hadirku lupakan semua tentangku.
kamu bergembira dengannya, anggapku tak pernah ada dalam kehidupanmu selama ini.
tak sadarkah kamu,
kamu datang dan pergi sesuka hatimu? sesuka jiwamu?
tanpa kamu sadari aku inginkan dirimu.
perlahan aku copba lupakanmu,
tapi tak pernah bisa.
karna dirimu terlalu sering ada di kehidupanku selama ini
terlalu banyak kata - kata indah diantara kita.
terlalu banyak khayalan yg kita ceritakan.
terlalu banyak kisah kita yg belum sempat aku ceritakan kembali.
terlalu banya suka duka yg kita lalui,
sudah 4 bulan kita saling berbagi.
banyak cerita tentang kita.
banyak hal - hal konyol yg kita ciptakan.
tapi, dengan mudahnya kamu melupakan semua ini.
kamu pergi dengannya,dan lupakan hadirku lupakan semua tentangku.
kamu bergembira dengannya, anggapku tak pernah ada dalam kehidupanmu selama ini.
tak sadarkah kamu,
kamu datang dan pergi sesuka hatimu? sesuka jiwamu?
tanpa kamu sadari aku inginkan dirimu.
perlahan aku copba lupakanmu,
tapi tak pernah bisa.
karna dirimu terlalu sering ada di kehidupanku selama ini
Sabtu, 06 April 2013
Diamku
Dalam diam aku memandangi punggungmu yang selalu pergi menjauh
Dalam diam aku menatap matamu yang tak pernah sekalipun tatap balik mataku
Dalam diam aku membisikkan kata “aku cinta kamu” setiap kali ada sempat yang buatku bisa dengar suaramu
Dalam diam aku berdoa
Tak ada suara saatku kagumimu
Menatapmu adalah hadiah terindah bagiku
Biar getar yang sampaikan rasa ini padamu
Tanpa bisik tanpa suara
Ada yang diam-diam harapkan dirimu
Ada yang mencintaimu
Kamu suarakan cinta untuk yang lain
Kamu suarakan rindu di hati yang lain
Aku tetap dalam diam
Aku masih saja diam
Dalam diam aku berdoa
Tuhan tahu doa terindah di dalam diam
Dalam diam aku mencintaimu
Biar aku saja yang tahu
entah harus berbuat apa
Entah, yg sedang aku rasakan ini apa.
Di satu sisi aku senang sekali kamu sudah berani untuk
melupakan dia, sudah ingin berusaha untuk mencari penggantinya, dan lebih
senangnya lagi hari ini, tepatnya jam 20:22 kamu ngajak aku nonton, iya nonton
bioskop, memang sih ini cma sekedar nonton dan lagi bukan cma berdua aja tapi
sama yg lain, teman – temanmu, tapi itu sebuah , kalo bisa di bilang kaya
anugrah lah,
Tapi di sisi lain aku sedih , karna apa? Karna di saat aku
sedang Happy kamu merusaknya, kamu
merusaknya dengan , dengan membahas Dia di chat
di salah satu jejaringsosial,
Dan disisi lain aku kecewa, iya… lagi lagi aku kecewa sama
kamu karna dia, karna dia…. Kamu meminta pendapatku untuk mengajak dia,
mengajak dia untuk ikut nonton bareng,
“ hello boy, gw disini
cewe loh.. pnya hati dan perasaan yg sangat sensitive, emang sih lo gk tau
tentang perasaan gw tapi lo bias dong untuk ngargain sedikit aja…”mungkin
kata – kata itu yg skarang ingin aku tulis, tapi entah kenapa hati ini urung
untuk melakukan itu, ya… lagi – lagi posisiku Cuma sebagai teman ngobrol di
saat kamu sepi.
“Hahahaa… ya udah ntar
gw ngomong sama dia, oke jga ide lo buat PDKT sm tu cewe, siip sip…” Cuma itu
yg bisa aku tulis, Cuma itu…
Entahlah untuk kedepannya bagaimana , aku ajak perempuan itu
dan melihat kamu bahagia, atau aku tidak mengajak perempuan itu dan aku bahagia
tapi di sisi lain kamu kecewa…
Entahlah…. Biar waktu, tuhan dan keadaan yg menjawab itu
semua…
Kamis, 28 Maret 2013
Pengorbanan cinta seorang wanita
Di pagi yang cerah ini, matahari begitu bersemangat untuk membangunkan
siapa saja yg masih tertidur pulas, dan seakan tidak memberikan kesejukan di
pagi ini.
perkenalkan namaku reina risyayah,bisa di pangil reina kelas X-Ipa di
SMA Cakrawala, aku senag sekali akhirnya aku bisa di terima di SMA favorit…,dan
aku punya shabat namanya Chika karenian dia sangat mengerti tentangku.
mataini pun sedikit demi sedikit terbuka dan dan aku terbangun dari
tidurku,
"ya ampun, udah jam segini," smabil melirik jam di kamarnya
"sudah jam 06.00 pagi,"lalu ia melanjutkan omongannya
tanpa fikir panjang ia langsung loncat dari tempat tidurnya
dan menuju ke kamar mandi,
sudah rapih pakaiannya, dan ia pun sudah siap untuk berangkat ke
sekolahannya.
reina pun membatin jangan sampe gw telat, please jangan sampe, sekolah
pun sudah semakin dekat dan akhirnya ia sampai di depan gerbang sekolah,
"mapus, gw telat nih"reina pun melihat ke arah kelasnya
reina pun berjalan dengan sedikit berlari, sudah sampai di depan kelas
nya ia pun mengetuk pintu,
"tok..toktok..., permisi, maaf bu saya baru datang," kata reina
"iya, silahkan duduk, mari kita lanjutkan
pelajarannya,"lanjut bu mesi menerangkan
reinapun langsung duduk di tempat duduknya di sebelah chika,
"kok lo telat sih na?"
"iya, tadi malem gw tidur jam 1,"sambil membuka buku
"gila, jam satu malem? ngapain aja lo?"smbil geleng-geleng
"hehee..., gw nulis chik,"jawab reina
"galau lagi ya lo?"Tanya chika
"mmm...,"sambil mikir
"gini nih temen gw, kalo lagi galau kerjaan nya nulis,"
"apaan sih lo..."
"tapi benerkan...?"chika pun menggoda reina
"apa sih...,"
tak sadar bel istirat berbunyi, bertanda pelajaran bu mesi sudah
selesai, anak-anak pun segera memasukin buku kedalam tasnya masing-masing dan
bergegas untuk ke kantin sekolah.
"ra, kantin yuk gw haus nih" ajak chika
"tapi...,"
"udeh hari ini gw traktir lo"
"ah.., ada apaan nih" reina kebingungan
"udeh cepet ntar keburu rame," chika pun menarik tangan reina
"iya..iya.."
chika dan reina pun sudah sampai di kantin sekolah, dan chika mengajak
duduk di meja yang di pojok sana
"chik.., kan udah ada yg tempatin,"
"udah gak nape kok,"
"tapi di situ ada anak kelas XI-Ips"
di meja sana sudah ada Ardi dan Ray,dan sudah ada 4 ice cream,
"chik...," panggil ardi
"iya,"sahut chika
"nih gw udah beli ice cream untuk kalian" kata ardi, sambil
membagikan ice tersebut ke chika,ray dan reina
"ada apaan nih bro?"ray kebingungan dengan adanya
peneraktiran ini,
"maaf kak, tp kenapa kakak bagiin ice cream ke kita?"tanya reina
canggung
"Emang tampang gw udah tua ya, sampe di bilang kakak"sahut
ardi
“mmhh…, bukan maksudnya kaya begitu kak, tapi…”belum selesai reina
menjelaskan ardi sudah memotong perkatan reina
“iya.., gw tau. Udah makan aja ice cream nya”potong ardi
"emm.., makasih ya kak,"jawab reina
suasana kantin pun sudah mulai di ramaikan oleh anak-anak
"chik, anterin aku beli minuman yuk," ajak ardi
"yaudah yuk..,ra gw ke sana dulu ya"sambil menunjuk kepedagan
minuman
"tapi...,"sahut reina
"bro, gw mau bli minum dulu ye, titip si reina jangan diapa-apain
luh..,"sambil jalan
"lo kira gw cowok apaan yang suka mainin cewek,"jawab Ray
“sip, gw percaya dah sama lo”sahut ardi sambil jalan
suasana kantin sudah tidak terlalu ramai, dengan suasana yang tidak ramai
Ray pun sesekali menatap reina dengan
tatapan yang dalam
“kak, jangan di liatin kaya gitu dong” kata reina sambil membuang muka
“emang kenapa?”Tanya Ray
“ya.., aku gak enak aja di liatin sama kakak,”jawab reina dengan
sedikit menunduk
“hahahahaaa…..,lo lucu ya,”tawa Ray dengan ekspresi muka bahagia.
Dengan adanya tawa dari Ray, Reina semakin menunduk dan semakin diam
membisu
"kok diem aja sih?"kata ray memulai pembicaraan
"mmm..., abis mau ngapain kak"sahut reina
"ngobrol cerita apa kek,"
"ya udah kakak aja yg cerita ntar aku dengerin"
"rumah lo di daerah mana?deket sama sekolah?"
"rumahku di daerah sudirman, agak jauh sih kak, emang
kenapa?"
"wah.., searah dong, gw kalo pulang juga lewat situ"dengan
ekspresi muka gembira
"ohh...,"jawab reina singkat
"lo kalo pulang naik apaan?"Tanya Ray lagi
"naik kendaraan umum kak," jawab reina
"oh...,capek dong" kata ardi
"ya gitu deh kak,abis mau gimana lagi?"reina menjawab
"emang nyokap bokap lo..." Tanya ardi
Belum selesai ardi menjelaskan pertanyaan nya kepada reina tiba-tiba
chika dan ardi pun menghampiri mereka dengan wajah yg penasaran ardi dan chika
pun menggoda reina dan ray.
"du..ileh, udeh maen
tanya-tanyaan rumah nih..," jail ardi bertanya
"iya nih, kayaknya ada
tanda-tanda nih..."sambung chika
"apaan sih
chik,"sedikit berbisik
"lo apa-apaan sih
bro..,"jawab ray
"nih minum buat lo berdua, jus
jambu dan jus alpukat" sambil menaruh di meja
"makasih bro," langsung
mengambil jus alpukat
“makasih kak..,” sahut reina
“ iya sama-sama ”jawab ardi
15 menit lagi bel masuk di
sekolah SMA Cakrawala berbunyi dan anak-anak sedikit demi sedikit meninggalkan
kantin sekolahan
“chik ke kelas yuk, bentar lagi bel nih kita
harus ganti baju olahraga” Ajak reina
“yaudah yuk,, di, ray gw ke kelas
duluan ya sama reina ” pamit chika kepada ardi dan ray
“yaudah, hati-hati ya,” sahut
ardi
“oke…,”kata chika
Langganan:
Postingan (Atom)