purnama indah mengintip dari gulitanya malam kemarin. purnama itu,
membuat aku merinding kesakitan. bukan tubuhku, tapi jeritan batinku
yang kian lama merontakan namamu. kian lama kian menggerogoti relung
jiwaku. aku mungkin yang terlalu lama menyikapi, kau hanyalah bualan
senja kemarin yang sudah tertelan mentari. aku dengan segala upayaku
menopang kaki, untuk berdiri. aku sudah jatuh sejak lama dan kau
penyebabnya.
untuk apa aku mempertahankan rasa aneh ini selama bertahun-tahun? kau
tak pernah menggubris kesakitanku, apalagi penantianku. kau datang dan
pergi sesukamu, menyematkan pelangi lalu memberikan badai setelahnya,
begitu berulang-ulang. dan dengan keseringan, aku memaafkan dan terus
menunggu kepulanganmu.
aku, menuai luka hari demi hari, melihatmu dengan mudah berganti hati.
sukma kalbu suci yang selalu kau ceritakan padaku tempo dulu, apa
seperti itu? kau yang mengajariku tentang ketulusan tapi malah kau yang
tak terbiasa pada ucapanmu. dengan mentah kau ucapkan, aku tak berarti,
kau pergi lalu menarikku kembali. untuk berapa lama lagi kau akan
seperti ini?
pernahkah sedikit saja di pikiranmu merasakan menjadi aku?
aku yang rela menghabiskan waktu untuk menunggu kepulanganmu,
menggenggam seluruh harapan bahwa kau akan menyematkan jemarimu di
sela-sela jemari kecilku, aku yang terus berusaha menjadi lebih baik
untukmu, aku yang terbiasa kau buang, aku yang selalu bergegas
menghampirimu ketika tak ada satupun manusia yang ingin mendengarkan
jeritanmu, aku. aku yang selalu ikhlas kau tinggalkan setiap saat.
adakah batinmu bisa bertahan lebih lama seperti ini? jangan kau pikir
menunggu itu tidak sakit. seperti dua mata pisau yang siap menusuk
ubun-ubunmu kapanpun ia ingin. dan aku? bertahan karena besarnya cinta
itu.
jika, kau berfikir aku terlalu berlebihan biar ku katakan satu hal padamu, 'kau tak akan pernah merasakannya sebelum itu terjadi pada hidupmu'.
aku mengerti kebodohan itu semakin menyelimuti, aku tak pernah meminta
rasa ini berlama-lama menetap, hanya saja kecintaanku terlalu
mengharapkan sosokmu mengisi labirin kosong yang telah lama usang. bukan
aku tak berniat pergi, tapi hatiku terus memanggilmu, hatiku terus
meminta untuk mendampingi sosokmu yang sudah jauh melupakan rumahnya
semula. ada yang salah dengan jalanku?
apa kau tau dalam heningnya malam aku menjeritkan namamu dalam isakan
tangis? isakan tangis yang tak pernah kau hapus walau kau kerap kali
melihatnya jatuh berlinang saat tanganmu melepas jemariku? meraung
kesakitan sendiri, lalu menyadari kau tak lagi peduli.
seandainya waktu bisa membuatmu menyadari, akulah selama ini gadis yang
tetap utuh mencintaimu, akankah kau kembali berpaling padaku lagi?
seandainya waktu bisa membuatmu tersadar, betapa sulitnya aku
mencintaimu, karena kamu belum tau rasanya menjadi aku yang mencintaimu
tanpa dendam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar